selasar-loader

Apakah yang menyebabkan berkembangnya golongan Syiah di Timur Tengah pasca meninggalnya Rasulullah?

LINE it!
Answered Jan 28, 2017

Banyak spekulasi terkait hal ini. Akan tetapi, spekulasi yang paling populer adalah pertentangan mengenai hak kepemimpinan setelah era Rasulullah. Setelah Rasul meninggal, golongan Anshar berkumpul di Saqifah Banu Saadah. Umar, Abu Bakr, dan seorang sahabat lagi pergi menemui mereka. Di sana, mereka berdebat mengenai siapa yang pantas untuk memimpin setelah Rasul meninggal. Setelah perdebatan panjang lebar, akhirnya semua sepakat untuk membaiat Abu Bakr.

Orang yang berada di pertemuan itu kemudian kembali ke Madinah dan memberitahukan bahwa Abu Bakr telah terpilih menjadi khalifah dan meminta seluruh warga Madinah membaiatnya. Kalangan Banu Hasyim dan pendukungnya kaget karena pada waktu itu mereka sedang mengurus jenazah Rasulullah. Banyak yang tidak setuju karena mereka tidak dilibatkan terlebih jasad Rasul belum dibumikan. Mereka yang tidak setuju seperti Salman Al-Farisi, Imam 'Ali, Abu Dhar Al-Ghiffari dan masih banyak lagi. Imam 'Ali, menurut sumber dari Muhammad Husain Haekal, tidak membaiat Abu Bakr selama beberapa bulan. Lalu kemudian, Imam 'Ali membaiat Abu Bakr dengan dalil agar tidak tercipta perpecahan umat Islam.

Atas kejadian itu, kemudian bibit-bibit Syiah muncul. Sebagian menganggap kepemimpinan lebih berhak jatuh ke tangan Imam 'Ali dan sebagian lainnya menganggap kepemimpinan sudah sah dipegang Abu Bakr karena telah dibaiat. Akan tetapi, hal tersebut masih dalam ruang lingkup politik.

Ranah teologis berkembang jauh setelah masa kekhalifahan, tepatnya setelah Imam Husain gugur di Karbala akibat pembantaian oleh Yazid bin Mu'awiyyah. Orang Syiah (terutama Imamiyah) percaya, yang merampungkan basis teologis mereka adalah Imam Ja'far Ash-Shadiq. Ide teologi Syiah lebih banyak bersumber dari Ahlul Bait dan pendukungnya, berbeda dengan Sunni yang lebih banyak menggunakan sumber para sahabat non-Ahlul Bait dan pendukungnya. Perbedaan ini juga lahir dari sudut pandang mereka yang menganggap para imam (Ahlul Bait) mereka adalah maksum, sama seperti Nabi Muhammad sehingga sumber-sumber dari Ahlul Bait lebih baik dan utama untuk didahulukan daripada sumber-sumber dari para sahabat yang lain.

Akan tetapi, perkembangan Syiah tidak signifikan sampai masa Dinasti Abbasiyah karena mereka masih dianggap sebagai ancaman dalam ranah politik. Syiah berkembang pesat ketika Dinasti Fathimiyah berkuasa. Akan tetapi, Syiah yang berkembang hanya Syiah Ismailiyyah di Mesir. Syiah Imamiyah masih bertaqiyah atau menyembunyikan diri. Syiah Imamiyah menjadi sekte dalam agama Islam yang dominan ketika Dinasti Safavid berdiri. Penguasa mengonversi agama resmi dari Islam Sunni menjadi Islam Syiah.

7ndI4YFvFWpBDiqHo_7QisA53Oks6UVp.gif

Sumber

Kesimpulannya, faktor Syiah berkembang pertama karena muncul perbedaan tafsir dari beberapa sahabat. Sahabat yang pro Imam 'Ali dan keturunannya dan sahabat yang pro dengan tiga khalifah awal serta Aisyah. Perbedaan cara tafsir ini tidak terlalu signifikan dalam membawa Syiah berkembang. Syiah berkembang secara signifikan karena adanya faktor pendukung dari pihak penguasa seperti berdirinya Dinasti Fathimiyah (notabene agama resmi mereka adalah Islam Syiah Ismailiyah), Dinasti Safavid, dan Dinasti Pahlevi atau Iran (Syiah Imamiyah) dan beberapa dinasti Sunni toleran seperti Dinasti Ottoman.

Singkatnya, ada dua faktor yang menyebabkan Syiah berkembang setelah era Rasulullah; (1) faktor internal yaitu penafsiran dan (2) faktor eksternal seperti dukungan dari pihak penguasa.

260 Views
Write your answer View all answers to this question