selasar-loader

Peristiwa dramatis apa yang paling Anda kenang yang mengubah jalannya hidup dan kehidupan Anda?

LINE it!
Answered Jan 27, 2017

Setiap orang mengalami masa lalu yang dramatis, biasanya peristiwa menegangkan tetapi bisa juga membahagiakan. Seringkali peristiwa dramatis ini mengubah arah jalan kehidupan yang telah direncanakan sebelumnya.


Imansyah Rukka
seorang aktivis petani dan jurnalis

 

Gp9hOHv5BJfjsYECcv0dpndCQqd0sxuS.jpg 

Aktifis Petani Berkisah

Secangkir kopi hangat pagi itu setidaknya memberikan gairah baru untuk memulai aktifitasku sebagai pegiat LSM di Makassar Sulawesi Selatan. Keseruput kopiku perlahan sambil menyimak koran Kompas cetak di rubrik Klasika edisi Makassar. Di rubrik klasika terbaca jelas judulnya “Lahan pertanian produktif itu berubah menjadi padang golf”, yang mana tulisan ini sebelumnya sudah di publikasikan di akun saya media sosial Kompasiana. Jujur, kisah ini saya terjadi di tahun 2012 lalu, ada rasa bangga campur haru membaca koran kompas klasika di pagi itu.

Di salah satu warung kopi andalan tempat kami para aktifis petani center berkumpul saat itu sebut saja warkop 63 yang terletak di bilangan Toddopuli Makassar, terlihat teman-teman sejawat dan pegiat petani berdatangan satu persatu.sebut saja, Iwan (30) salah seorang kerabat aktifis petani asal jeneponto yang baru saja bergabung di lembaga petani center mengaku heran campur senang, tatkala membaca koran Kompas cetak klasika melihat tulisan saya yang termuat di koran nasional itu. Setibanya di warkop, mendorong kursi dan mengucapkan “selamat pak ketua, tulisan ta yang di koran kompas hari ini sudah saya lihat”, ungkap Iwan.

Lain halnya, dengan Fendi (34), Disela-sela seru dan hangantnya perbincangan pagi itu tiba-tiba ia bertanya, Pak Ketua tabe”, ternyata apa yang kita perjuangkan (LSM Petani Center) selama ini dalam meng-advokasi para petani di Desa Pallantikang Kec. Pattalassang, Kab. Gowa itu adalah sebuah perjuangan yang benar-benar nyata untuk membuktikan kepada para petani bahwa kebijakan pembebasan lahan menuai kontroversi. Dengan begitu pemda setempat sempat kebakaran jenggot alias tertekan dengan perjuangan kita saat itu.

“Terimakasih teman-teman sekalian, yang lebih dahsyat lagi, apa yang telah kita perjuangkan selama ini sebelumnya telah diulas panjang lebar di akun saya media sosial Kompasiana,  namun barangkali sesuai dengan kebijakan admin Kompasiana kala itu saya ingat sekali Kang Pepih Nugraha-lah yang membantu itu semua. Ketika ada tulisan dari daerah yang dianggap layak untuk dimuat di Kompas cetak edisi klasika makassar saat itu.

Selang beberapa jam kemudian, masih dalam suasana warung kopi. Tiba-tiba Hp saya berdering. Terlihat dilayar panggilan dari Bapak Lutfi Halide, yang mana beliau adalah kepala dinas Pertanian Prop. Sulsel saat itu. Seperti ini percakapan via telepon ;

“Ass wr wb ndi, apa kareba tu?.

Alhamdulillah Kanda, kabar baik selalu

Lagi dimana ki?

Kebetulan lagi sama teman-teman para aktifis petani center minum kopi, kanda”.

Ohya, bagus sekali tulisan ta yang termuat pagi ini di Koran kompas. Dan juga kebetulan tadi bersama Bapak Gubernur coffee Morning dan bapak Gubernur Syahrul Yasin Limpo langsung bertanya saat itu tentang dinda di Petani Center.

“Ohya kanda, sampaikan salam hormat saya kepada beliau, dan perjuangan saya belum selesai dan masih panjang soal kaum tani di wilayah sulsel yang harus juga saya ulas”, ungkapku.

Bapak Syahrul berpesan kepada Ketua petani center bahwa ketika ada jadwal di undang untuk bertatap muka dan berdiskusi soal persoalan petani di sulawesi selatan.

Hari kian bergulir, tak terasa saya dapat kabar melalui Kadis Pertanian Sulsel. Lutfi Halide. Dalam sms singkatnya berbunyi ; “ass wr wb ndi, di undang untuk bertatap muka dengan Bapak Gubernur Syahrul Yasin Limpo, besok pagi jam 09.00 di ruang pertemuan kantor Gubernur Sulsel, kalau tidak salah seingat saya.

 

 

 aO-fqyuZLDt4jb27OFBqScSHer5tFlak.jpg

Tibalah waktu yang mendebarkan itu, sebuah peristiwa yang belum pernah aku alami sebelumnya yakni bertemu dengan pejabat orang nomor satu di propinsi sulawesi selatan. Sekali lagi ada rasa deg-degan campur was-was namun menggembirakan juga. Ternyata sebuah perjuangan yang dilakukan secara solid dan penuh dengan ketulusan yakni mendampingi dan meng-advokasi petani yang tertindas haka-haknya merupakan sebuah kenyamanan dan kepuasan tersendiri, apalagi dengan tulisan yang kritis sampai membuat penguasa di wilayah ini jadi tersentak”, pikirku seperti itu.

Pagi hari kota Makassar, saat itu terlihat berawan. Tak lama kemudian telepon selluler saya berbunyi. Terbaca panggilan masuk dari Bapak Lutfi Halide. Saat ini posisi sekarang dimana dinda? Tanya nya.

“Sementara kulaju sepeda motorku yang masih berada di Jalan Racing Center, siap kanda, ucapku, sekarang saya sudah di Jalan Racing Center”.

Tibalah saya dihalaman kantor Gubernur Sulsel. Kuparkir sepeda motorku di pelataran parkir yang sudah disediakan. Selang berapa saat, terlihat Fendi teman sesama aktifis sudah lebih dulu tiba di kantor itu. Ia terlihat memegang kamera saku sederhana, mungkin dia siap mengabadikan momen bersejarah itu.

Masuk ke dalam ruangan kantor pejabat kondang di Sulsel itu serasa terasa begitu angker namun bersahabat. Sambil berjalan ke arah pintu masuk dan naik ke lantai dua khusus menuju ke ruangan Gubernur, terlihat beberapa pegawai dan para tamu yang juga antri ingin bertemu Gubernur Sulsel.

Tak lama kemudian, Bapak Kadis Pertanian Sulsel Ir. Lutfi Halide datang mendekat dan menyambutku dengan suasana yang sangat akrab. Saat itu perasaaan yang tadinya cemas salah tingkah seketika berubah menjadi santai. Yang buat saya menjadi terharu ketika pak lutfi mengajak cipika cipiki sebuah tradisi ala para kerabat yang tergolong sudah akrab dan tentunya sebuah penghormatan dan penghargaan bagi saya.

“Bagaimana dinda Imansyah, sudah siap semuanya?, gimana dengan teman-teman ta yang lain berapa orang yang masuk ke dalam untuk bertemu dengan bapak Gubernur?”, tanya Pak Lutfi saat itu.

“Segala sesuatunya sudah siap kanda”, saya hanya berdua, yang satu namanya Fendi dan saya tugaskan untuk memotret semua pertemuan sejarah ini”, jawabku kepada Pak Lutfi.

Masuk ke dalam sebuah ruangan untuk tamu-tamu khusus undangan Bapak Gubernur melewati sebuah protap. Saya dipersilahkan mengisi buku tamu yang sudah disediakan oleh petugas yang ada di pintu masuk ruangan tersebut.

Kemudian masuklah saya bersama Fendi ke dalam ruangan yang sangat besar. Dalam ruangan tersebut saya ditemani oleh Pak Lutfi Halide, juga ternyata hadir waktu itu Kepala Dinas Peternakan Sulsel, Murtala Ali (alm) dan Pak Burhanuddin Mustafa kepala Dinas Perkebuna n Sulsel.

Saya lantas berpikir kembali, rupanya pertemuan atas undangan saya hari ini merupakan sebuah pertemuan yang terbilang langkah disamping selain pertanian juga melibatkan stake holder (pemangku kepentingan) sektor peternakan dan sektor perkebunan, bahwa pertemuan undangan saya selaku aktifis ketua petani center di sulsel adalah benar memberikan pengaruh nyata apa yang sudah saya perjuangkan bersama teman-teman sejawat.

Dan setahu saya, belum ada LSM atau jurnalis amatir kala itu diundang khusus seperti ini hanya untuk berdialog dan berdiskusi, padahal itu hanya pemberitaan saya di Kompas cetak klasika soal kritikan saya di sektor pertanian sulsel.

 

 

 7ZEaCAaUJckjJYrwIt5PDdwlhSneQJby.jpg

Tak lama pertemuan pun dimulai, saya dipersilahkan duduk di sebuah kursi yang lagi-lagi khusus untuk pembicaraan dan dialog bersama Pak Syahrul Yasin Limpo. Sementara yang lain yakni Kadis Pertanian, Kadis Peternakan dan Kadis Perkebunan Sulsel duduk di sebelah kiri depan Bapak Gubernur. Kami dipersilahkan duduk sambil menunggu sejenak Bapak Gubernur masuk ke ruangan tersebut.

Sambil duduk, tiba-tiba empat orang wanita muda belia terlihat cantik-cantik berpakaian baju hitam dan putih datang membawa sajian minuman teh hangat dan kue-kue khas bugis makassar dengan ditutup dengan bosara. “Ya lagi-lagi undangan ini memang istimewa dan khusus untuk saya, sampai di jamu seperti ini”, gumamku.

Tak lama Bapak Gubernur SYL pun masuk ke ruangan di dampingi beberapa ajudan, staf dan assisten. Beliau langsung mendekat ke saya, saya pun berdiri dari kursi menyambutnya dan bersalaman dan juga cipika cipiki, hangat sekali pertemuan ini.

Saya pun kembali duduk di kursi yang telah disediakan sejak awal. Dengan diantarai meja ditengah, saya duduk bersebelahan dengan orang nomor satu di Sulsel itu. Dan dimulailah pertemuan yang mendebarkan itu.

“Selamat datang Imansyah Rukka, terimakasih dan senang sekali anda bisa hadir dalam dialog atas undangan kami, saya sudah mendengar banyak sekaligus membaca tulisan-tulisan anda di berbagai koran baik itu Koran Fajar maupun  yang baru-baru ini dan masih hangat adalah koran kompas cetak”, pada prinsipnya saya selaku pemimpin dan kepala pemerintahan dalam hal ini Gubernur sulsel sekali lagi berterimakasih atas kritikan-kritikan anda selaku aktifis pemerhati masalah sektor pertanian dan kondisi petani di sulsel”, jelas Syahrul Yasin Limpo

“Apa yang anda tulis itu sudah merupakan hal yang lumrah dan sah-sah saja sebagai seorang aktifis LSM yakni petani center. Namun yang perlu diingat bahwa, saya selaku gubenur sulsel agar para aktifis petani center sulsel untuk tetap berkoordinasi dan bekerja sama dengan satuan kerja yang ada di lingkungan kami, ohya saya perkenalkan dan mungkin anda sudah mengenalnya, yang duduk di di sebelah kanan saya ini”, semua itu terkait dengan yang anda advokasi selama ini”, imbuh Syahrul.

Saya juga lupa, yang paling saya ingat adalah tulisan anda Imansyah Rukka soal “ada apa dengan surplus beras sulsel”, adalah sebuah tulisan kritis yang sebenarnya sangat membuat saya dan tim saya tersentak, bagaimana pun tulisan tersebut muncul ditengah gencar-gencarnya kami melakukan terobosan program peningkatan beras nasional.

Saya persilahkan anda menjelaskan apa dasar pemikiran anda menulis kritis perihal surplus beras sulsel?,

Baik, terimakasih atas kesempatan yang diberikan, sebelumnya saya memperkenalkan diri kembali. Nama saya Imansyah Rukka, lulusan fakultas peternakan unpad bandung, saya pernah bekerja sebagai fasilitator di lembaga internasional Bank Dunia selama empat tahun lamanya, disini waktu saya banyak dicurahkan untuk masyarakat tertinggal termasuk petani. Disinilah saya mengerti banyak bagaimana bisa memaknai hidup dengan menjadi pendamping dan aktifis petani. Berangkat dari kepedulian itulah kini saya menjadi aktifis petani dan merupakan sebuah pilihan hidup saya”.

Ketika kontrak saya selesai empat tahun lamanya, saya berpikir kembali bahwa sebaiknya saya mendirikan sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM), maka berdirilah LSM petani center ditahun 2010 lalu.

Daeng Kawang, begitu panggilan akrab Bapak Syahrul Yasin Limpo, dengan tidak mengurangi rasa hormatku, tabe”, saya sebagai aktifis hanya ingin menjelaskan bahwa berbagai pemberitaan yang ada soal surplus beras dua juta ton sulsel. Ada redaksi mengatakan bahwa jika suplus beras sulsel dua juta ton berhasil di sulsel maka ada 16 trilyun uang yang mengalir di sulsel”, begitu ungkapku kepada bapak SYL.

Namun kenyataan dilapangan lain Daeng Kawang, yang ada ketika saya bertemu dan melihat langsung kondisi petani di beberapa desa di sulsel, saya ambil contoh petani padi di desa pallantikang kec. Pattalassang Kab. Gowa seperti daeng sama (49) belum merasakan sentuhan program surplus beras dua juta ton ini”. Bahkan kehidupan ekonomi daeng sama masih memprihatinkan dengan sulitnya membeli sarana produksi pertanian seperti benih, pupuk dan pestisida, belum lagi anak-anak mereka putus sekolah karena tidak mampu lagi membayar biaya sekolahnya”.

Belum lagi, alih fungsi lahan produktif di Desanya yang tergerus oleh lapangan golf, yang mana lahan daeng sama telah dialih fungsikan menjadi padang golf internasional sementara biaya pembebasan lahan yang dibayarkan oleh pemerintah tak sebanding dengan nilai yang akan diterima mereka”. Jelas saya kepada Daeng Kawang.

Apa yang kita canangkan yakni program peningkatan produksi beras nasional yakni surplus beras dua juta ton sangat bagus dan saya selaku aktifis petani center sangat mendukung kebijakan tersebut, namun  jangan sampai tidak memperhatikan kesejahteraan petani dan keluarganya. Jika kebijakan terus menerus tak pernah berpihak kepada kesehateraan petani, saya selaku aktifis petani center akan terus melakukan advokasi kebijakan juga menulis perihal ketimpangan tersebut”, ungkapku kepada Daeng Kawang.

Diakhir dialog tersebut, Pak SYL menjelaskan sekaligus mengakhiri bahwa, sekali lagi saya sangat berterimakasih kepada LSM Petani Center sebagai pendamping petani di Sulsel. Untuk itu saya perintahkan kepada 3 SKPD yang ada di depan saya untuk bekerja sama dan berkolaborasi bersama LSM Petani Center dilapangan, dan sebisa mungkin bisa mengakomodir bentuk kerjasama yang diperlukan.

Begitulah undangan dialog gubenur sulsel syahrul yasin limpo kepada ketua LSM Petani Center yang bagi saya merupakan kisah yang sangat mengharukan karena pada saat itulah secara nyata terjadi perubahan kebijakan yang ketat untuk sektor pertanian, tak lepas karena kritikan-kritikan saya di media sosial kompasiana dan koran cetak fajar dan kompas klasika. Kisah aktifis inilah yang tak akan pernah saya lupakan dalam kehidupan dengan tetap menjaga integritas dan idealisme seorang aktif petani.

Semoga bermanfaat

***

 

311 Views
Write your answer View all answers to this question