selasar-loader

Apakah masih perlu hukuman penjara untuk menekan angka kriminalitas?

LINE it!
Answered Jan 19, 2017

Iqrak Sulhin
Ketua Departemen Kriminologi FISIP UI

Saat ini mungkin sulit untuk membayangkan negara tanpa penjara. Penjara, setidaknya sampai saat ini, dinilai sebagai bentuk penghukuman paling rasional di dalam mencegah kejahatan. Ada dua argumentasi yang diajukan mengenai bagaimana penjara dapat mencegah kejahatan. Pertama, penjara melakukan inkapasitasi, menahan seseorang, membuatnya jauh dari masyarakat sehingga tidak lagi membahayakan. Kedua, penjara dinilai mampu melakukan rehabilitasi, sehingga penjahat tidak lagi memiliki kecenderungan mengulangi kejahatan.

Ide penjara yang muncul abad ke-18 dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan tentang manusia. Di dalam Discipline and Punish (1979) Foucault menjelaskan bagaimana ilmu tentang manusia telah mempengaruhi munculnya penjara sebagai bentuk penghukuman yang rasional. Ilmu yang berkembang saat itu menjelaskan bahwa perilaku manusia dapat dimodifikasi, melalui pendisiplinan. Strategi pendisiplinan yang dinilai efektif adalah melalui regularitas kegiatan yang dilakukan di dalam penjara. Sebagaimana masih diterapkan sampai saat ini, di dalam penjara diterapkan time table, yang mengatur seluruh kegiatan narapidana dari bangun hingga tidur kembali. Regularitas kegiatan ini merupakan upaya normalisasi, menjadikan tubuh-tubuh yang patuh.

Tapi pertanyaannya, apakah penjara menjerakan? Atau apakah penjara mampu menekan angka kejahatan? Pertanyaan ini telah muncul lama, dan jawabannya akan berbeda, tergantung perspektifnya. Bila dilihat dari sisi ilmu tentang manusia yang menganggap perilaku manusia dapat dimodifikasi, maka jawabannya penjara mampu menekan kejahatan. Namun bila dilihat secara empiris dari sisi output, banyak yang meragukan bahwa penjara itu menjerakan. Hingga saat ini, pengukuran mengenai efektifitas pemenjaraan masih belum mengkonfirmasi secara meyakinkan bahwa penjara mampu menekan kejahatan. Hal mana tidak termasuk kenyataan bahwa penjara memang mengurung penjahat sehingga dalam waktu tertentu masyarakat akan aman.

Pada tahun 1974, penelitian-penelitian mengenai efektifitas penjara (khususnya Robert Martinson) bahkan sampai menyimpulkan bahwa nothing works, penjara tidak ada gunanya sama sekali. Bahkan penjara menyebabkan kondisi seseorang menjadi lebih buruk. Dalam disertasi Sulhin (2014), dikatakan penjara adalah praktek penghukuman yang destruktif. Sebuah praktek yang paradoks dengan ide rehabilitatif bahkan reintegrasi sosial. Gresham M Sykes, dalam the pain of imprisonment, telah menjelaskan bahwa pemenjaraan hanya mengakibatkan penderitaan. Demikian pula yang dijelaskan oleh Erving Goffman dalam Assylum.

Khusus di Indonesia, belum ada penelitian yang benar-benar mengkonfirmasi bahwa pemenjaraan dapat mencegah residivisme. Kecuali hanya klaim subjektif dari pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Bahwa Ditjenpas telah berusaha keras melakukan pembinaan, namun belum ada fakta empiris yang membuktikan bahwa pembinaan tersebut efektif. Dalam banyak kasus, para pelaku kejahatan adalah mereka yang berstatus karir kriminal, di mana sebelumnya mereka sudah pernah dipenjara. Kasus residivisme narapidana teroris adalah contoh lain.

Lantas apakah penjara menjadi tidak lagi relevan? Menurut saya, penjara setidaknya menahan orang-orang yang berbahaya sementara waktu. Termasuk menahan mereka yang berstatus pelaku kejahatan sangat serius seperti terorisme, katakanlah seumur hidup. Terlepas dari persoalan biaya, dalam hal menahan mereka yang masuk kategori tersebut penjara masih bisa dinilai rasional.

Satu hal penting lainnya, sistem peradilan pidana, semestinya tidak memandang adalah penting memenjarakan sebanyak mungkin kriminal. Sejatinya tidak semua yang dipenjara adalah mereka yang memang seharusnya dipenjara. Seperti mereka yang murni pengguna narkoba. Memenjarakan pelanggar hukum kategori ringan bahkan berarti memasukkan mereka ke dalam sekolah tinggi kejahatan. Karena mereka yang masuk penjara dapat belajar menjadi penjahat yang lebih profesional.

326 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Iqrak Sulhin
Bukan intelektual, hanya pengamat sejarah