selasar-loader

Apakah Duterte Style dalam perang terhadap narkoba cocok jika diterapkan di Indonesia? Mengapa?

LINE it!
Answered Jan 18, 2017

Presiden Fiilpina, Rodrigo Duterte, melakukan aksi tembak mati di tempat bagi pengguna dan pemain narkoba, tak peduli latar belakang. Apakah Darurat Narkoba di Indonesia harus dijawab dengan Rodrigo Style mengingat narkoba tetap marak dan seolah tanpa solusi?


Hari Nugroho
Researcher at Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience

1BxUHdt6VI3mqFlMrqMdL8Et37KoIuov.jpg

Bagaimana mengatasi permasalahan narkoba yang efektif telah lama menjadi perdebatan, yang kemudian melahirkan banyak madzhab, mulai dari paradigma moral, hingga kesehatan masyarakat, dan brain disease.

Paradigma moral banyak dianut oleh masyarakat, memandang permasalahan narkoba harus diselesaikan dengan hukuman yang berat, tanpa memandang status mereka apakah sebagai pengedar, bandar, atau hanya pengguna. Maka tak heran, tatkala Duterte menerapkan kebijakan tembak mati bagi warga Filipina yang terlibat narkoba, masyarakat banyak yang bergembira dan mendukung, sebagian yang lainnya merasa kebijakan itu tidak adil.

Paradigma moral ini di Amerika berwujud kampanye war on drugs yang di deklarasikan oleh Presiden Nixon di tahun 1971, yang menyatakan bahwa musuh negara nomor satu adalah penyalahgunaan narkoba (drug abuse).

Sebenarnya pidato Nixon menyebutkan bahwa untuk mengatasi masalah ini diperlukan pendekatan supply dan demand reduction. Alih-alih menjalankan apa yang dikatakannya, Nixon kemudian hanya melakukan pendekatan supply reduction saja. Begitu juga dengan Presiden Reagen di tahun 1981, yang me-review kembali apa yang dikatakan Nixon, bahwa pendekatan supply reduction saja tidak efektif dan menghabiskan banyak dana.

Namun sama seperti Nixon, Reagen juga ternyata hanya melakukan pendekatan supply reduction, dengan mendeklarasikan gerakan zero tolerance, dan memotong anggaran edukasi, pencegahan, dan rehabilitasi.

Apakah model penanganan narkoba semacam ini efektif? Ternyata dari hasil banyak kajian pendekatan moral saja dengan model war on drugs tidak cukup untuk mengatasi permasalahan ini. Oleh karena itu banyak negara kemudian melakukan pendekatan supply dan demand reduction dengan lebih baik, sesuai dengan rekomendasi INCB (International Narcotics Control Board) yang tidak merekomendasikan war on drugs dalam penanganan narkoba (INCB Annual Report, 2015).

Rekomendasi yang diberikan oleh INCB adalah pendekatan seimbang dan humanis dalam penanganan narkoba. Tujuan Utama dari penanganan narkoba/ controlling narkoba adalah menjamin kesehatan dan kesejahteraan.

Semangat ini pula yang dimasukkan dalam ruh UU No. 35/ 2009 tentang narkotika, sehingga, pendekatan yang dilakukan Indonesia sesuai dengan rekomendasi INCB/ UNODC, tegas terhadap para pengedar, bandar, atau produsen, serta humanis terhadap para penyalahguna atau pecandu.

Pendekatan seperti Duterte tentu saja mengkhawatirkan, terutama dalam hal potensi untuk disalahgunakan untuk kepentingan politik praktis, pelanggaran HAM, dan ketidakadilan karena menghukum tanpa pengadilan dan kesempatan membela diri.

Hal ini tentu tidak cocok dilakukan di Indonesia. Yang terbaik adalah pendekatan supply and demand reduction harus dilakukan secara seimbang. Edukasi juga harus dilakukan kepada seluruh masyarakat, dan memang hasilnya tidak akan dinikmati secara instan, namun jauh ke depan.

192 Views
Write your answer View all answers to this question