selasar-loader

Apa nasihat terbaik yang pernah Anda dapatkan?

LINE it!
Answered Nov 28, 2016

Ada banyak nasihat dan kata-kata baik di dunia ini. Apa nasihat terbaik yang ada dalam hidup Anda?


Arfi Bambani
Chief Culinary Officer eh Chief Content Officer Selasar

Gambar terkait

Sumber gambar via http://cdn0-a.production.liputan6.static6.com/ (SUM)

"Di kota, kita jadi kambing. Di kampung, kita jadi harimau."

Itu nasihat ibu berulang kali kepada saya yang disampaikan tatkala kami berbincang-bincang di saat saya remaja. Nasihat itu dari ibu saya, seorang sarjana muda dari perguruan tinggi ternama di Kota Padang, yang memilih menetap di kampung halamannya, sebuah ibu kota kecamatan sekitar dua jam perjalanan darat dari Kota Padang. Intinya, nasihat itu berisi keputusannya mengapa memilih menetap di kampung.

Ibu saya memiliki 23 saudara seayah. Hanya dia dan satu kakaknya yang memilih menetap di kampung halaman, sedangkan 22 saudara dia lainnya menyebar di beberapa kota besar di Sumatera dan Jawa. Ibu memilih di kampung menjaga warisan pusaka rendah dari sang ayah dan pusaka tinggi dari kaum ibunya, sebuah khas adat-istiadat Minangkabau. Ibu saya memilih jadi bundo kanduang bagi kaumnya.

Saya ingat, meski seorang perempuan, ibu sering sekali menerima permintaan tolong dari saudara-saudara sekaumnya, yaitu saudara-saudara dari ibunya. Ibu pernah dicalonkan menjadi wali nagari (kepala desa) namun kalah. Namun, kesempatan itu membuka pintu ibu untuk maju menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah kabupaten kami. Ibu telah menjadi "harimau" di kampungnya.

Meski dia di kampung, ibu memilih mengirimkan saya bersekolah ke Kota Padang, memasuki sekolah menengah terbaik di Kota Padang bahkan mungkin Sumatera Barat. Dari Padang, saya lanjut kuliah ke Jawa, dan berlanjut akhirnya bekerja di Jakarta. Tak pernah terpikirkan di kepala saya untuk menjadi "harimau" seperti yang dimaksud ibu.

Setelah sekian lama merantau ke Jakarta ini, barulah saya teringat nasihat ibu dulu bahwa di mana pun kita berada, kita seharusnya adalah "harimau", bukan "kambing". Meski di Jakarta, jangan sampai mentalitas kita adalah mentalitas "kambing". Kita adalah produk dari apa yang kita pikirkan tentang diri kita. Kita adalah "harimau" di mana pun berada.

* Mohon maaf pada harimau dan kambing yang menjadi objek perumpamaan.

420 Views
Write your answer View all answers to this question