selasar-loader

Apa akibatnya jika korupsi waktu sudah menjadi kebiasaan?

LINE it!
Answered Aug 07, 2017

Ibnu Zubair
Menolak tua dengan rutin tertawa

tFXHkrVKF9jxqn3I7Yv4mpD6x2obMJk8.jpg

Ada ungkapan yang sering diperdengarkan, bahwa suatu kesalahan yang terus-menerus dilakukan lama-lama akan menjadi kelaziman. Suatu ketika, Anda tidak terlambat dalam acara tertentu, padahal Anda tahu kalau terlambat sudah menjadi kebiasaan, maka Anda akan dianggap aneh, karena melakukan perbuatan yang diluar kelaziman. maka terlambat menjadi lazim, akibat tidak pernah datang tepat waktu dilakukan berulang-ulang dan terus-menerus.

Salah satu alasan timbulnya gerakan disiplin nasional di era Soeharto, karena "ngaret" dan malas antri telah menjadi kebiasaan, sehingga suatu pelaksanaan kegiatan ditulis dalam undangan lebih awal dari waktu yang telah ditentukan sebenarnya. Misalnya, waktu aslinya jam 16.00 WIB, maka dalam undangan akan ditulis jam 15.00 WIB. Satu jam selisihnya diperuntukkan bagi permakluman atas keterlambatan.

Demikian pula di sekolah atau instansi pemerintah sekalipun ditulis waktunya dengan jelas dan tegas, tapi dalam rekap kehadiran nantinya yang terlambat tiga sampai lima menit dalam waktu yang telah ditentukan akan tetap dianggap datang tepat waktu. Karena selisih tiga sampai lima tadi merupakan angka toleransi yang sengaja disiapkan. Akhirnya, mereka yang tahu dengan kebijakan tersebut sengaja datang pada tiga sampai lima menit kemudian dari waktu yang telah ditetapkan.

Lama-lama toleransi waktu mendapat pembenar dengan kondisi lalu lintas yang demikian parah, sehingga muncul alasan klasik untuk mensiasati keterlambatan dengan mengatakan jalanan macet. Sekalipun macet tidak terjadi dalam hari-hari ini, melainkan sejak Jakarta ditasbihkan sebagai kota metropolitan.

Efek lain dari korupsi waktu, terbiasanya mahasiswa dan pelajar menggunakan sistemn SKS dalam belajar. Sistem Kebut Semalam (SKS) telah menjadi tabiat dalam belajar. Semua materi pelajaran yang dipelajari dari semester ke semester dalam kurun waktu berbulan-bulan tuntas dipelajari dalam semalam. Akibatnya, cara instan menjadi solusi ketika otak buntu dalam belajar. Di kampus-kampus, contekan kecil dari kreasi tukang fotokopi menjadi daya pikat tersendiri. Yang paling miris, kursi-kursi di dalam ruang ujian menjadi alternatif lain jika contekan tukang fotokopi akan mudah dideteksi.

Tentu saja yang paling mengerikan dari korupsi waktu adalah korupsi dalam artian yang sesungguhnya dan itu merupakan efek nyata dari korupsi kecil-kecilan yang tidak kunjung diperbaiki.

411 Views
Sri Oetoro

Sebenarnya, untuk korupsi juga memerlukan keahlian. Misalnya bagaimana cara ngakali pajak. Tanpa mempelajari ilmu perpajakan orang tidak akan bisa ngakali pajak. Juga money loundry dsb. Nah aku usul, para ahli ini dikirim keluar negeri untuk korupsi di negeri orang, kan bisa menghasilkan devisa. Contohnya koruptor² yang lari ke luar negeri tuh. Kan uangnya lari ke sono. Tapi ini cuma angan² aku, jangan dinilai dari segi moral, dosa atuh ....  Aug 7, 2017

Write your answer View all answers to this question