selasar-loader

Siapa Miftah Sabri, pendiri dan CEO Selasar?

LINE it!
Answered Jan 10, 2017

Arief Mizan
Suka politik terutama komunikasi politik

nzOZa4KVUylerxWWTdO1JcZ0GjyYsdky.jpg

Rumah kami hanya berjarak 200 meter.

Jadi secara geografis, saya adalah temannya yang paling dekat.

Jika banyak orang yang hanya melihat jayanya seorang Miftah, saya termasuk di antara orang-orang yang melihat tragedi demi tragedi dalam hidupnya. Ini orang sudah ditempa suka dan duka berjuta kali.

Saya mengenal Miftah sejak 2003, namun baru intens berkomunikasi saat menjadi tim suksesnya sebagai calon Ketua Senat Mahasiswa FISIP UI 2005-2006 dan akhirnya memenangkannya. Dia tahunya saya itu adalah mahasiswa jurusan komunikasi dan bisa desain grafis. Saat itu, kami punya mimpi yang sama untuk mendirikan lembaga pers pertama di FISIP UI. Dan kemudian lahirlah FISIPERS di mana saya menjadi Pemimpin Umum pertama media yang baru lahir itu. Hingga saat ini, FISIPERS masih tegak berdiri di FISIP UI.

hR2ETR_ZhLeyhHymZa1gC-g-0U_QmdGx.png

Meskipun sebaya, tapi rasanya Miftah sudah jauh melampaui kami saat itu, dan gap itu terasa sangat lebar. Di saat yang lain masih sibuk mencari jati diri dan terjebak pada hobi bersenang-senang, Miftah justru menemukan kebahagiaan saat bertemu tokoh-tokoh intelektual, politik, budaya, bisnis, dan lain-lain. Dan bukan sekadar mengobrol basa-basi saja, orang-orang top ini kemudian menjelma menjadi teman dekatnya. Kemampuan komunikasi interpersonalnya memang bikin kami geleng-geleng kepala. Dan saya lihat, Miftah tidak terlihat berusaha keras untuk melakukannya. Itu adalah bakat alami.

Saya kemudian baru mengerti setelah melakukan perjalanan bersama Miftah dan Fauzan Zidni, kini Ketua Asosiasi Produser Film Indonesia, ke kampung halamannya di Padang Panjang dan Bukittinggi. Ketiga dari kami punya misi masing-masing saat itu. Miftah pulang kampung dan menjadi pembicara di Kampus Goes To Kampuang, Zidni ingin memotret keindahan Danau Maninjau dan saya sedang PDKT dengan gadis yang kelak menjadi istri saya, mutiara dari ranah Minang.

Kembali ke kenapa saya bisa mengerti tentang Miftah adalah saat saya mengunjungi rumahnya di tepian Ngarai Sianok yang terkenal indah itu. Tempat itu kemudian saya ketahui bernama Panorama. Miftah lalu bercerita tentang masa kecilnya, pengalamannya sebagai tour guide, masa sekolah, tentang ibu, bunda, kakek dan paman-pamannya. Sesekali, dia pamer kebolehannya memandu wisata dengan menjelaskan tentang Lubang Jepang yang ada di komplek wisata tersebut. Di situlah saya mengerti apa yang membentuk manusia ini.

F5-LUuOEwrwm_9nkDvKf3spAj3bEiFI2.jpg

 

Man With Idea, Passion & Network

Saat Pilkada DKI 2007, Miftah yang saat itu masih bekerja sebagai peneliti di Puskapol UI pimpinan Mbak Sri Budi Eko Wardani membuat gebrakan dengan menyelenggarakan quick count bekerja sama dengan JakTV. Saat itulah saya melihat ganasnya dynamic duo Miftah dan Hasan Nasbi, koleganya di Puskapol UI, serta dibantu oleh Achmad Zaky, mahasiswa ITB, untuk urusan IT, dalam mewujudkan suatu hal yang nyaris mustahil menjadi terwujud dan sukses. Dua nama terakhir kini tentu tidak asing lagi di telinga kita. Uda Hasan kini memimpin konsultan politik nomor wahid di Indonesia bernama Cyrus Network dan Zaky adalah CEO Bukalapak.com, situs belanja online terbaik negeri ini.

Saat kami bersama-sama terlibat dalam tim sukses salah satu calon Gubernur Sumatera Utara tahun 2008, Miftah bicara dengan mantan Bupati itu layaknya seorang teman. Satu kalimat yang saya ingat keluar dari kandidat itu adalah, “Ko ni macam Intel (kamu ini seperti intel)”, karena gerakannya yang licin seperti kisah-kisah agen CIA atau Frank Abagnale Jr. dalam film Catch Me If You Can. Ia bisa menjadi konsultan yang cerdas, guru yang baik, sekaligus juga bisa menjadi manipulator yang handal. Awalnya saya terkaget-kaget, tapi kemudian menjadi terbiasa dengan deretan tokoh yang ada dalam jaringannya.

Saya banyak belajar dari gayanya memikat lawan bicara. Terutama dari intonasi bicaranya yang naik-turun saat bercerita tentang sesuatu. Namun obat yang paling manjur sebenarnya terletak pada wawasan dan semangat. Perpaduan otak dan otot memang ampuh dalam membangun jaringan. Oleh karenanya, saya jadi membaca lebih banyak buku dan menambah wawasan. Semata-mata agar ketika datang masanya Miftah memperkenalkan saya pada jaringannya, saya bisa memanfaatkannya dengan maksimal. 

 

Sebagai Orang Sakti, Teman, Pecinta dan Junkie

Dia orang sakti. Belasan testimoni di bawah ini sudah cukuplah untuk menegaskan kesaktiannya. Bicaralah sejenak dengannya dan Anda akan mengerti kenapa Miftah ini dikisahkan dengan rasa takjub. Ya, dia ajaib. Buat Miftah, tidak ada kata mentok atau buntu. Semua pasti bisa asal mau putar otak. Agility ini yang sulit ditemukan pada kebanyakan orang. Tapi, bukan berarti dia tidak pernah jatuh dan hancur. Mereka yang ingin sukses haruslah mengecap pahitnya kegagalan. 

Miftah adalah teman yang baik dan peduli. Namun tidak mudah menjadi temannya. Ia memiliki semangat yang meledak-ledak sehingga seringkali membuat teman-temannya sendiri merasa terintimidasi dan kadang tersinggung. Ya, memang terkadang tingkahnya menyebalkan. Banyak yang bertahan tapi ada juga yang memilih menjauh dan memilih jalan sendiri. Namun belakangan, Miftah sudah sangat asik, kalem, dan bijaksana. Bisa jadi karena teman-teman seusianya kini sudah mulai berkembang secara intelektual dan pengalaman, tapi yang pasti Miftah sekarang lebih bisa menahan kesaktiannya.

Miftah juga adalah seorang pecinta yang ulung. Ia mencintai istri dan kedua anaknya dengan sangat. Dan itu terucap dan dilakukannya. Terlebih dari itu, dia adalah orang yang bertanggung jawab. Banyak dari kita mungkin yang sudah cukup repot memikirkan diri sendiri, tapi dia memilih menanggung hidup banyak orang di sekelilingnya. Baik yang sedarah maupun yang baru dikenal.

Miftah itu junkie. Pecandu. Ia kecanduan buku. Di rumahnya, ribuan buku tersusun di rak-rak buku. Ini orang selalu dekat dengan buku. Yang paling dia suka adalah buku biografi, namun semua buku dilahap. Saat mau masuk bisnis kuliner, entah berapa buku yang dia baca. Mau coba bisnis batu bara, berpuluh buku dibaca. Bagi Miftah, belum ada yang mampu menggantikan buku sebagai sumber ilmu. Segala yang berseliweran di media digital adalah interpretasi penulis dari buku yang dibacanya.

 

Miftah dan Selasar

nSiybXCCMkRHX7ClQ2igSRitFSV2cvwT.jpg

Kini Miftah menjabat sebagai CEO Selasar yang sejatinya lahir dari pemikirannya sejak awal. Mungkin dia sudah bosan juga bermain di balik layar terus menerus. Sebagai penonton setia pergerakan-pergerakannya, suatu malam saya diajak mengobrol ringan di pinggir kolam ikan koi di rumahnya. Ia bercerita tentang masa depan media dan bagaimana teknologi digital akan menguasai industri media. Seperti biasa, Miftah selalu menyertakan contoh saat bercerita. Dan cerita itu adalah tentang bagaimana Ariana membangun Huffington Post dari yang hanya sekedar blog biasa menjadi multibillion dollar company saat diakuisisi oleh AOL hanya dalam waktu 5 tahun. Ia menjelaskannya dengan berapi-api. Ketawanya lepas, liurnya terbang ke mana-mana, kakinya naik ke kursi dan tangannya berkali-kali memukul meja.

"Ngeri ini, Mas!" teriaknya. Entah dari mana asalnya, tapi kami mulai sering memanggil 'Mas', satu sama lain, padahal kami keduanya asli Sumatera.

Dan begitulah Miftah. Ia memang sakit sejak lama. Penyakitnya adalah tidak bisa menahan ide. Dia akan hantam semua penghalang untuk mewujudkan mimpinya. Ketika Miftah coba untuk berbisnis rumah makan, taruhannya dijatuhkan 100% pada bisnis ini, meskipun sekarang tidak melanjutkannya tapi sebuah rumah makan Simpang Raya nan elite sudah berdiri kokoh di Bali. Ia gemar membangun warisan. Creating legacy. Dan untuk itu, terkadang energinya memancar ke mana-mana sampai terkadang seperti tidak fokus.

Singkat cerita, akhirnya lahirlah Selasar. Nama Selasar sendiri muncul saat saya dan salah seorang founder kebingungan memikirkan nama situs dan juga ketersediaan domain .com saat itu. Kami membuat list beberapa nama yang menarik, dan akhirnya Selasar yang paling cocok secara makna dan pengucapan. Tempat memajang karya, tempat bertemunya raja dan rakyat, lorong atau channel untuk menyampaikan pesan, ke semua itu mewakili ruh media ini.

Dengan tangan dingin Shofwan, PhD. dan Ma Isa Lombu, Selasar tumbuh menjadi situs yang cukup dipandang di Indonesia karena berisi 5.000-an orang-orang sakti dari lintas disiplin yang rutin mengirim tulisan di situs baru ini. Di kepemimpinan Miftah, Selasar kemudian berevolusi menjadi knowledge sharing platform. Membuat akses untuk berselasar kini menjadi lebih mudah karena tidak perlu seilmiah tulisan dalam format yang lama. Dalam sekejap, user Selasar melonjak drastis, ribuan user dalam hitungan minggu. Bergabungnya Bang Zulmi sebagai CTO, Uda Arfi Bambani (Sekjen AJI) sebagai CCO, dan Kang Pepih Nugraha (ex-COO Kompasiana) sebagai COO tentu menambah daya ledak Selasar dan menjadi kompatriot terbaik bagi Miftah. 

G7QgkM5vklHSeAhoem_ckz-VJyPMz-jj.jpg

Saya mengingat kembali salah satu video di saat Jack Ma (CEO Alibaba.com) menceritakan pengalamannya sebagai tour guide dan bagaimana itu mempengaruhi kemampuan bahasa, negosiasi, persuasinya, dan seketika pula saya teringat akan Miftah. Bagi saya, ia bukan hanya CEO, tapi juga Tour Guide Selasar yang paling handal. Saya mendoakan kesehatan dan umur panjang untuk Miftah. Dan semoga ia semakin bisa mengendalikan kesaktiannya agar Selasar bisa menjadi platform berbagi pengetahuan, pengalaman dan wawasan terbaik di indonesia. Apalagi Miftah kini dikelilingi oleh CEO-CEO top di Indonesia.

"Masa iya gak bisa, Mas!" giliran saya meneriakinya.

Semangat, Mas. Pasti sukses. Semesta mendukung.

Vivat Selasares!

1174 Views
Write your answer View all answers to this question