selasar-loader

Siapa Miftah Sabri, pendiri dan CEO Selasar?

LINE it!
Answered Jan 07, 2017

Ronny P
Pengamat Ekonomi Politik. Penyeruput Kopi. Dan Urang Bagak Baladiang

s-EiqBf070noFpt7MIEcgnH55Okn-3bu.jpg

Bagi saya, pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sangat menggoda karena baru kali ini orang seunik Miftah Sabri ramai dibahas dan ditestimonikan oleh orang-orang yang mengenalnya langsung. 

Miftah Sabri, di mata saya, selain seorang manusia energik, unik  dan creative, juga seorang yang penuh dengan kejutan dan manusia yang super ekspresif dalam melontarkan ide-ide. Saat tertawa, hentakan kakinya ke lantai bisa berbarengan dengan irama tawa yang melompat di antara sela-sela giginya. Beliau adalah manusia yang nampaknya hanya terlahir satu di antara ratusan, bahkan jutaan manusia lainya, manusia yang hanya satu diturunkan dalam satu musim dan zaman. 

Dari sisi pergaulan, dibanding Miftah Sabri, tentu saya ini apalah, hanya sekulit kuaci. Wara-wiri di dunia keuangan dan pasar modal, ya sebatas itulah pergaulan saya. Mungkin kawan-kawan ngopi beberapa di antaranya berjabatan Direktur Utama atau Executive Vice President di perusahaan-perusahaan keuangan, tapi ya cuma sebatas dunia keuangan. Jika sudah bergeser ke ranah politik dan pemerintahan, ranah jejaring intelektual, ranah lobby-melobby, apalagi ranah pergaulan para penggila digital, entahlah saya ini siapa. 

Itulah pembeda yang sangat kentara antara saya dengan Miftah Sabri Sutan Mangkudun. Di umur yang tergolong sangat muda, pergaulan politiknya sudah menyamudera di Indonesia. Apalagi pergaulan intelektual, bisnis, budaya, dan pergaulan dalam jejaring penggila teknologi. Tak perlu disebutkan satu-satu tokoh mana saja yang jadi temannya, hanya membuat tangan saya capek mengetik nama. Begitulah bedanya dengan saya. Tapi memang aneh, tampangnya ya seperti saya saja. Jika saya tampil biasa-biasa saja memang karena saya orang biasa. Bagi Kudun, panggilan akrab beliau, tampilan slebor memang tak bersua dengan tingkat pergaulannya. 

Sehari-sehari ya slengek-an saja. Jika tertawa tak punya rem dan tak punya tombol volume. Tak peduli di mana, di Soto Padang Bang Karto Tanah Abang atau Di Simpang Raya Blok M, atau di coffeeshop kelas atas dan lounge hotel bintang lima, sama saja bagi dia. Tertawa, ya, yang begitu itu, terbahak tanpa basa-basi. Dan aturan umum biasanya agak-agak kurang berlaku baginya. Bayangkan saja, hanya Sutan Mangkudun yang berani minta tambah kuah sate di Restoran Padang Peranakan China, Marco, di mal kelas premium depan Bursa Efek Jakarta. Permintaan tambah kuah sudah bukan lagi melalui teriakan semisal "bang tambah kuahnya", tapi nyelonong langsung ke benteng pertahanan koki dan minta kuah di sana. Sepanjang sejarah, cuma dia yang berani melakukannya.

Lain lagi soal kendaraan. Beberapa waktu belakangan, beliau membiasakan diri naik Innova. Satu buat istri, satu buat dia. Konon beberapa waktu sebelumnya, merek-merek mobil kelas premium pernah parkir di garasinya. Boleh jadi jiwa populisnya lagi kambuh dan gak sembuh-sembuh sampai sekarang, maka beliau mulai membiasakan diri dengan mobil bapak-bapak pejabat sekelas kepala dinas di daerah. Bahkan belakangan beliau malah gemar naik ojek dan rental mobil online. Banyak kemudahan yang didapat, katanya. Tinggal klik, lalu duduk manis menunggu, dan duduk manis di belakang supir, ucapnya pada saya suatu waktu.

Meski awalnya saya sempat tak menyangka kalau dia bisa naik kereta dan ojek, tapi akhirnya saya percaya bahwa dia bisa naik kereta dan ojek jika kepepet. Satu ketika saat janjian makan soto di Tanah Abang, pas saya sudah menghenyakkan pantat di bangku Soto Bang Karto, beliau masih siap-siap keluar kelas di Universitas Pertahanan Sentul. Bisa dibayangkan jauhnya. Tak ada cara lain, dia naik kereta dan berlanjut dengan tukang ojek sampai ke TKP. Dan janji makan soto tetap terpenuhi, walau akhirnya saya harus mengantarkan beliau kembali ke bilangan Kemang, markas Achmad Zaky, sang legenda dari bukalapak dot com, di mana beliau juga terlibat cukup aktif dalam mengembangkan bisnis.

Miftah berbeda dengan saya yang mungkin tak terbiasa dengan kereta, tapi dengan ojek tak perlu dibahas lagi. Bahkan menyerobot motor ojek pun pernah saya lakukan demi mengejar jadwal meeting. Tak ada supir di kantor, maka ojek selalu jadi sasaran saya. Maklum, untuk mengurai macetnya ibu kota, ojek adalah solusi ampuh. Taksi boleh jadi juga salah satu jalan, tapi saya anggap sebagai opsi saat hujan saja. 

Miftah Sabri, alumni Ilmu Politik UI, mantan ketua senat FISIP UI, yang kalau pulang kampung selalu menyambangi dua provinsi, Sumbar dan Riau, adalah manusia yang belum ada padanannya dalam hidup saya. Boleh jadi, oleh karena itu pula Tuhan mempertemukan kami, agar ada manusia semacam beliau yang ikut mewarnai dan meluarbiasakan hari-hari saya yang biasa-biasa saja.  

Ide briliannya suka melompat bak katak kaget. Muncrat begitu saja saat suatu topik sedang dibicarakan. Yang terakhir saya masih ingat ketika di Hotel Mercure, Padang. Istilah "MinangPride" sebenarnya muncul dari mulut beliau. Sebelumnya, cerita hanya berkisar pada masalah-masalah sisi-sisi negatif pergaulan orang Minang yang cenderung kurang produktif karena cimeeh nan gigantis sehingga citra negatif pun kerap kali menyelimuti topik yang berbau budaya Minang. 

Lalu berlanjut pada niatan untuk menguranginya dan mengganti dengan spirit saling support, saling membantu, saling membesarkan hati masing-masing, dan saling memberi respon positif. Kesemuanya tidak berarti harus membela dan mendukung di jalan yang salah, seperti membabi buta membela koruptor, membela penguasa yang omdo, atau menghilangkan kritik yang baik. Kesemuanya dirangkum dalam semangat "bangga menjadi orang Minang". Dan Sutan Mangkudun lah yang mengkhatamkannya ke dalam istilah "MinangPride" yang kita kenal hari ini.

Terkait saya dan Sutan Mangkudun, walau belum terlalu lama, belum masuk hitungan puluhan tahun saling mengenal, rasanya justru sebaliknya. Kami justru sudah seperti kenal jauh lebih lama dari yang sebenarnya. Dan testimoni saya pendek saja saat seorang kawan bertanya "siapa sih Miftah Sabri Sutan Mangkudun?". Jawaban saya, "dia orang gila, manusia yang berjuang keluar dari kerangka kemanusiaannya lantaran terlalu meledak-ledak dalam berkreasi, setruman listrik di otaknya melebihi manusia rata-rata. Itulah mengapa saya sebut gila." Kawan saya tertawa. Saya balas dengan senyum semata. Karena saya pun susah mencari penjelasan yang pas untuk si Sutan yang satu ini saking kompleksnya fakta kecerdasan dan kejiwaan yang beliau miliki. 

Namun terlepas dari itu, seperti yang sudah saya katakan tadi, di mata saya, dia adalah si slebor yang jenius, atau sebaliknya, whatever lah. Jenius tentu dalam parameter saya. Perkara orang lain memiliki testimoni berbeda, tentu itu perkara lain. Dan saat ini, beliau adalah juga bapak yang sangat sayang dan bangga kepada anak-anaknya. Suami yang bangga dan sangat cinta pada istrinya. Serta pemikir yang cinta dan bangga kepada pemikiran pemikir-pemikir yang mengenalnya. Di saat banyak orang saling sentak dan sikut secara intelektual, beliau justru mampu berlaku lain. Beliau justru mampu merangkul perbedaan dengan persuasi yang cukup layak diacungi jempol.

Dan tak lupa juga, beliau adalah juga penggila puisi. Pemain yang cukup ulung dalam mengarak dan menggocek kata-kata indah, lalu menggoalkannya ke dalam gawang kekaguman kita. Jika menulis, ciri khas dan karakter tulisannya sangat mudah dikenal. Perpaduan antara Buya Hamka, Chairil Anwar, dan Alber Camus. Sisi Alber Camusnya terseret jauh di dalam makna, bukan dalam redaksional. Dan sisi Buya Hamka dan Chairil Anwarnya terasa begitu dominan dalam redaksional. 

Bagi saya, terlepas dari pengaruh tokoh-tokoh itu, membaca tulisan beliau ekuivalen dengan mendengarkan beliau bertutur langsung di depan saya di warung kopi atau di coffeeshop. Pernah suatu ketika beliau meminta saya untuk mengedit tulisanya, tapi akhirnya saya kembalikan bulat-bulat. Karena setelah proses editing, saya coba baca ulang, ternyata jiwa Sutan Mangkudunnya hilang di dalam tulisan tersebut, meskipun proses editing tidak mengubah substansi. 

Saat mebacanya lagi, saya sudah tidak merasa seperti mendengar beliau bertutur langsung lagi kepada saya. Seperti ada cairan kegilaan yang hilang yang membuat saya juga kehilangan Mangkudun jika tulisannya saya edit ulang. Di mata saya, inilah kharakter yang tak bisa dilepaskan begitu saja. Dan dia memilikinya. Jika cairan kegilaan itu hilang, maka kegilaan saya pun tidak muncul. Dan kami pun nampaknya akan dilanda kehambaran jika sama-sama dilanda kehilangan kegilaan semacam itu.

#Kopie

V1jjj4LVvE1KMs-piYEJqpQAvdnJ2j9D.jpg

foto via dokumen pribadi

442 Views
Sari lenggogeni

kuah sateee   Apr 25, 2017

Zulfian Prasetyo

Seperti biasa, permainan diksi Bung Ronny senantiasa nikmat diseruput.  Jan 8, 2017

Write your answer View all answers to this question