selasar-loader

Siapa Guru SMA paling favorit Anda dan mengapa beliau begitu mengesankan Anda?

LINE it!
Answered Nov 24, 2016

Setiap kita pernah SMA. Disamping punya kisah kasih di sekolah, kita pasti punya Guru Guru yang favorit yang inspiratif.  Ada yang guru Sejarah, Guru Kimia, Fisika, Bahasa atau olahraga dan Agama. Pelajaran yang ia ajarkan. Hikmah dan nasehat yang pernah beliau sampaikan.

Siapakah guru SMA kamu kamu yang paling berkesan tersebut?


Hasil gambar untuk ibu guru

Sumber gambar: http://3.bp.blogspot.com/-Qr0CSRSISJw/T8daDtGcRAI/AAAAAAAAAFU/eLVZeCd-xHc/s1600/Ibu-Guru-Selamat-Ultah-Karikatur-AlfyoriCom.jpg (SUM)

 

Ibu Tri Elfi Hendri.

Beliau adalah nama guru favorit saya ketika bersekolah di Kampus Biru SMA 1 Padangpanjang. Secara fakta, sebenarnya agak aneh menjadikan beliau sebagai guru favorit karena sepanjang menjadi murid beliau, saya sangat sering mendapat hukuman, hukuman yang bikin sakit dan bahkan membekas. Akan tetapi, entah kenapa beliau mengambil tempat khusus di hati saya.

Sesuatu yang disampakan dari hati akan sampai ke hati. Itu yang dapat saya maknai dari sosok beliau dalam semua aktivitasnya mengajar kami. Beliau juga seorang guru yang bersikap totalitas. Semua cara, semua metode, dan semua pemisalan akan beliau pakai untuk berusaha memberi pemahaman kepada kami terhadap mata pelajaran yang beliau berikan, yang memang suatu mata pelajaran yang sulit bagi sebagian orang, yaitu Kimia. Pada awalnya, mata pelajaran itu juga sulit bagi saya tetapi kemudain saya dapat menikmatinya. Terlalu banyak cuplikan momen selama berinteraksi dengan beliau ketika SMA bahkan sampai sekarang untuk menobatkan beliau sebagai guru favorit, saya akan ceritakan yang terbaik di antara semua nilai baik yang dimilikinya.

Beliau adalah motivator, setidaknya bagi saya. Saya adalah murid juara umum selama SD hingga SMP di kampung saya. Ketika saya masuk ke SMA dengan peringkat sekolah terbaik se-Sumatera Barat, dan masuk kelas unggulan pula, saya kaget karena kebanyakan anak-anak lain juga pernah menjadi juara di SMP masing-masing. Di kelas 1 selama dua semester, mata pelajaran yang penting bagi anak IPA adalah Matematika dan Fisika dan saya lulus dengan cara "ngesot", yaitu dengan remedial. Menyakitkan untuk anak yang pernah lama menikmati predikat juara umum. Akan tetapi, begitulah faktanya.

Sementara itu, dalam mata pelajaran yang beliau ajarkan, yaitu Kimia, saya lulus dengan nilai sangat pas-pasan. "Lapeh makan," kata orang kampung kami. Akan tetapi, entah dapat ilham dan bisikan dari mana, beliau menganggap saya berpotensi di bidang Kimia. Saya pun dipersilakan oleh beliau untuk ikut kelas pelatihan olimpiade Kimia, yang waktu itu dilatih oleh beliau sendiri dan juga dosen dari Unand dan UNP. Saat itu, saya bersama empat orang yang memang berbakat di bidang Kimia, yaitu Arinaldo Adma, Anggra Pramana, Ihsan Fatrian, dan Wenni Gustiana serta beberapa teman yang lain.

Selama satu semester, saya mengikuti kelas pelatihan itu dan selama itu pula, hampir tidak ada yang dapat saya pahami. Akan tetapi, beliau tetap meminta saya mengikuti lomba. Lomba Kimia pertama yang saya ikuti ketika kelas II, yaitu lomba perorangan Kimia di UNP tetapi gagal total karena pada tahap penyisihan, saya sudah tersingkir. Dalam lomba kedua di penghujung kelas II, saya mendapat kesempatan lagi olimpide Kimia tingkat Kota Padangpanjang, yang juga gagal total karena tidak lolos pada tahap penyisihan. Yang lebih menyakitkan, dari lima orang utusan sekolah kami, hanya saya saja yang tidak lolos sedangkan empat lainnya, yang namanya saya sebut di atas lolos sampai tingkat provinsi bahkan nasional. Karena hal ini, saya mendapat hukuman cubit sakti dari beliau yang nantinya akan saya ceritakan. Akan tetapi, ketika saya kelas tiga, "pintu cahaya" mulai terbuka. Karena izin Allah dan motivasi beliau, saya akhirnya bisa "mencicipi" rasanya menjadi juara 1 lomba Kimia perorangan tingkat Sumbar yang mengalahkan empat orang yang lebih dijagokan menjadi juara dari sekolah kami, yaitu juara 3 Lomba Cerdas Cermat Kimia tingkat Sumbar dan menjadi finalis lomba Kimia perorangan se-Sumatera.

Beliau pamiciak. Siapa pun yang pernah diajar beliau, kalau ditanya satu kata tentang Bu Tri, pasti jawabannya, pamiciak (suka mencubit). Semuanya akan sepakat. Walaupun cubitan beliau itu sakitnya "minta ampun" dan titiknya semua sama, yaitu di kulit lengan bagian bawah, saya jamin takkan seorang pun yang dendam pada beliau. Justru, cubitan itu adalah tanda sayang beliau bagi saya. Saya adalah pemegang rekor kena cubit di kelas kami tetapi saya nikmati.


Ada banyak kondisi murid beliau akan kena cubitan sakti itu. Pertama, kalau beliau sedang mengajar, kita tidak boleh langsung menulisnya di buku catatan. Apa yang beliau sampaikan harus dibuat di coretan dahulu kemudian ketika di asrama, coretan itu dipindahkan ke dalam buku catatan. Kedua, kalau coretan pelajaran pertemuan sebelumnya belum juga disalin ke buku catatan sebelum pertemuan berikutnya, ketika beliau melakukan sidak, dijamin ia akan mendapat cubitan. Repot kan? Tetapi belakangan ini, semua tahu hikmahnya.

Ketiga, kalau tulisannya jelek, ia akan mendapat hukuman. Ini sangat subjektif sebenarnya karena waktu itu, ada kawan saya yang tulisannya jelek tetapi ia aman (teman sekamar, namanya mirip dengan saya, sekarang jadi dokter) karena bagus di mata Bu Tri. Akan tetapi, saya yang tulisan bagus, menurut saya, sering mendapat cubit karena jelek menurut beliau. Oleh sebaab itu, setiap saya memindahkan coretan ke buku catatan, terpaksa saya menulisnya agak pelan sehingga akan terlihat bagus di hadapan beliau walaupun hasilnya tetap jelek.

Keempat, anak-anak akan mendapat cubit ketika beliau sedang kesal. Yang ini undefined condition, 'tidak terdefinisi' karena terlalu banyak faktor yang mempengaruhinya. Saya pernah dicubit beliau gara-gara tidak lolos olimpiade Kimia padahal hanya tingkat kota saja. Di lain waktu, ketika lolos ke final lomba Kimia se-Sumatera Barat pun saya tetap mendapat cubit. Kala itu, saya lolos ke final lomba Kimia di urutan 7 dari 10 sedangkan empat peserta lain dari sekolah kami masuk final urutan 1,2,3 dan 5. Ketika itu, beliau kesal, apalagi beliau tahu penyebab saya di urutan 7. Oleh sebab itu, dapatlah saya combo piciak. Pada akhirnya, di putaran final, saya malah mendapat juara 1, yang mungkin ada hubungannya dengan mantra piciak beliau.

Terakhir kali, beliau sangat perhatian kepada saya. Dari penampakan, penerawangan, dan dari curhatan saya, beliau sangat paham kalau saya adalah orang yang akan berkeringat dingin ketika mengetahui bahwa aku diterima di ITB, Bandung. Orang tua saya dengan adik saya yang berjumlah enam orang, tidak cukup uang untuk biaya saya kuliah di ITB. Akhirnya, beliaulah yang menenangkan dan berjanji akan membantu saya mencari beasiswa. Beliau pun mencarikan informasi dan ketika saya sudah di Bandung, beliau mengatakan bahwa ada beasiswa dari Pemprov Sumbar. Beasiswa itu lalu diurus oleh ibu dan ayah saya. Alhamdulillah saya akhirnya mendapatkannya dan sangat terbantu dengan beasiswa itu.


Di lain waktu ketika saya sudah lulus dan bekerja, beliau juga yang selalu semangat bertanya, “Adi, kamu mau nikah kapan? Ibuk bantu tanyakan ya. Anak SMA kita saja, kan banyak tuh yang jilbabnya lebar nampak sama Ibuk. Kamu mau yang jilbabnya lebar kan?”. Beliau malah sampai sebut nama, tapi ya sudahlah. Itu hanyalah masa lalu. Untuk kali ini, saya tidak memenuhi niat baik beliau karena saya akhirnya menemukan tambatan cinta yang lebih cantik dan tak kalah lebar jilbabnya dari kandidat beliau. Ketika hari pernikahan, Bu Tri pun hadir pada hari bahagia saya.

Terakhir, beliau adalah sosok yang sangat dermawan. Saya tak bisa menceritakan banyak soal ini. Sepanjang saya mengenal beliau, beliau menjadi teladan bagi saya. Saya berharap ini dapat menjadi amal beliau dalam diam. Pesan beliau kepada saya dan teman-teman adalah "Apa yang baik yang sudah dibiasakan ketika di SMA dan di asrama jangan pernah ditinggalkan, seperti mengaji dan membaca AlQur’an."

Semoga Bu Tri sehat selalu.

 

1079 Views
Bugi Sumirat

Tidak ada karena semua guru saya anggap sama  Dec 6, 2016

Topik Irawan

Bu Nina guru akuntansi SMAN 1 Mandirancan  Dec 6, 2016

Write your answer View all answers to this question
Sponsored