selasar-loader

Apakah tips dan trik untuk mendapatkan beasiswa LPDP?

LINE it!
Answered Jan 06, 2017

Fajri Muhammadin
Lecturer at the Dept. of International Law, Faculty of Law, UGM

Rh1hiTIr7tV14dotV6fFuR5BDufUHzre.jpg

Perkenalkan sebelumnya, nama saya Fajri Matahati Muhammadin. Saya adalah awardee LPDP, salah satu dari angkatan pertama, yaitu Batch PK 2 pada tahun 2013 lalu.

Alhamdulillah, saya berkesempatan untuk mendapatkan S2 di University of Edinburgh (UK). Alhamdulillah, pada saat menulis ini, saya sedang menunggu 10 hari lagi untuk berangkat S3 di International Islamic University of Malaysia dengan skema Beasiswa Lanjutan LPDP.

Barangkali banyak pengalaman saya yang sudah kurang relevan lagi, karena sejak tahun 2013 sudah buwanyak sekali yang berubah. Misalnya tesnya saja, zaman saya cuma berkas dan wawancara dan sekarang ada essay di tempat dan LGD. Tingkat kompetisinya juga mungkin sudah berbeda.

Setelah melihat jawaban dari Mbak Hana Fitriani (bisa diklik link, baiknya dibaca dulu), saya ingin menambahkan sedikit khususnya ditujukan kepada kalian para mahasiswa yang masih berjuang untuk lulus, terutama sekali yang masih lama lulusnya.

Kalau sedang promosi LPDP, selain mengatakan bahwa "LPDP bukan sedekah atau hadiah melainkan investasi", saya selalu mengatakan bahwa "LPDP melihat ke depan dan ke belakang". 

Saya sangat setuju dan mengapresiasi Mbak Hana yang sudah menjelaskan bahwa LPDP bersikap sebagai investor untuk kemajuan Indonesia. Karena itu, jangan sampai mengira bahwa beasiswa LPDP adalah beasiswa sedekah (khusus untuk yang tidak mampu) atau hadiah (reward bagi mahasiswa berprestasi). Karena itu, kemudian Mbak Hana menjelaskan betapa pentingnya melihat rencana apa yang ingin kita kembangkan untuk masa depan Indonesia dan seberapa menjualkan hal itu. Inilah maksud saya LPDP "melihat ke depan".

****************************

Nah, maaf intronya panjang, tapi saya ingin menekankan sedikit pada aspek "melihat ke belakang" dan ini penting sekali untuk peminat beasiswa LPDP, terutama sekali yang masih mahasiswa. 

Seorang investor selain melihat ke depan atau melihat bagus tidaknya rencana yang kamu tawarkan, dia juga akan melihat apakah kamu orang yang dapat mengemban cita-cita yang luar biasa itu. Apakah kamu mampu? Atau are you biting more than you can chew?

Kamu harus bisa membuktikan bahwa kamu mampu. Dan bukti itu bukan dengan janji saja, melainkan juga dengan track record yang relevan menunjukkan bahwa kamu punya potensi untuk melakukan apa yang kamu janjikan!

Contoh pengalaman saya sendiri adalah ketika saya mengatakan bahwa saya ingin menjadi dosen dan mengembangkan ilmu hukum khususnya hukum internasional. Setelah bercuap-cuap bahwa bidang yang ingin saya kembangkan ini sangat penting, interviewer bertanya apakah saya punya pengalaman relevan. Saya berani katakan "ya". 

Saya mengatakan, "Saya siap menjalankan tridarma perguruan tinggi (pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat)". Menggunakan tridarma perguruan tinggi bagi sebagian orang adalah argumen yang sangat old school, tapi alhamdulillah saya dapat membuktikan klaim saya dengan track record.

Misalnya pada aspek pendidikan, bahwa walaupun saya belum ada satu semester jadi dosen honorer, tapi saat itu (2013 awal) saya sudah punya 10 tahun mengajar. Mayoritas adalah mengajar debat bahasa Inggris di berbagai institusi dan seminar atau penyuluhan juga. Setahu saya tidak banyak dosen yang melamar dengan keadaan sudah punya pengalaman mengajar sebanyak saya (atau bahkan sama sekali).

Kemudian pada penelitian, tidak banyak kawan mahasiswa saya yang menulis di media umum atau meneliti apalagi menulis di jurnal ilmiah. Saya justru sudah terlibat beberapa penelitian, baik sebagai asisten maupun sebagai peneliti utama dan didanai universitas. Ditambah lagi, saya sudah melakukan publikasi ke dua jurnal ilmiah dan salah satunya terakreditasi nasional, semuanya sebelum saya lulus. Jadilah ini nilai plus yang besar. Belum lagi ditambah dengan pengalaman  international moot court di mana saya pernah mewakili Indonesia di Hong Kong dan alhamdulillah membawa pulang piala. Kegiatan tersebut membutuhkan dan kemudian mengasah buanyak sekali skill penelitian.

Terakhir, pengabdian masyarakat, saya aktif di organisasi Jogja Debating Forum (JDF). Di JDF inilah saya mendapatkan sebagian besar pengalaman mengajar saya. Kami berperan besar dalam menyosialisasikan critical thinking ke pelajar dan mahasiswa melalui kegiatan English Debate. Sering sekali kami melakukan penyuluhan ke masyarakat dan bekerja sama dengan lembaga pemerintah. Antara lain, saya membantu penyelenggaraan lomba debat bahasa Inggris di Dinas Pendidikan Kota Jogja, Provinsi Riau, Provinsi Bali, dan lain sebagainya. Bahkan, saya sudah pernah menjadi pelatih debat bahasa Inggris untuk Timnas SMA Indonesia (2009 dan 2010). Saya pun mengetuai tim untuk menulis buku panduan debat bahasa Inggris yang dapat diunduh gratis, dan kami lacak sudah terunduh di berbagai negara (Filipina, Singapura, India, dll). Alhamdulillah, pengalaman saya ini dapat terhitung pengabdian kepada masyarakat.

Alhamdulillah juga, para interviewer pun teryakinkan dengan penjelasan saya, sehingga setelah mereka melihat ke depan, saya dianggap punya rencana yang bagus untuk Indonesia, dan setelah melihat ke belakang, saya dianggap mampu dan berpotensi untuk menjalankan rencana-rencana investasi untuk masa depan Indonesia yang saya propose sebelumnya.

Saya pun lolos beasiswa LPDP untuk kemudian berangkat pada bulan September 2013.

****************************

Untuk apa saya bercerita panjang tentang pengalaman saya itu?

Saat saya melakukan semua kegiatan saya itu, belum ada yang namanya LPDP. Saya hanya mengikuti apa kata hati saya saja, apa yang menurut bermanfaat dan di mana saya merasa nyaman. Barulah menjelang akhir studi saya melihat bahwa jika saya ingin menjadi dosen maka saya butuh mengasah skill penelitian.

Saya bersyukur sekali bahwa Allah menakdirkan bahwa saat saya merasa ingin jadi dosen, sudah lumayan banyak hal yang saya lakukan sebelumnya yang ternyata sangat bermanfaat bagi saya baik secara substantif maupun sebagai credentials

Akan tetapi, betapa banyak sarjana atau mahasiswa yang hampir lulus, menghampiri saya untuk meminta nasihat terkait LPDP, dan saya sampaikan soal "melihat ke depan dan ke belakang" tadi, mereka langsung galau. Mereka tidak punya pengalaman apa-apa yang bermanfaat untuk itu!

Mereka bertanya, "Terus gimana dong?"

Saya jawab,  "Yah, gimana lagi. Semoga aja kalian bisa punya rencana yang begitu bagusnya dan bisa menjual itu sehingga interviewer akan melihat sedikit saja kepada kekurangan pengalaman kalian."

Karena nyatanya bukannya sedikit juga yang memiliki minimal pengalaman organisasi tapi ternyata bisa lolos juga. Barangkali karena memang beda bidangnya sehingga beda kebutuhan, tapi ya itulah variasinya. Yang datang kepada saya biasanya mahasiswa fakultas hukum yang mayoritas bidang hukum tentunya akan membutuhkan banyak sekali pengalaman organisasi dan kegiatan untuk membuktikan kemampuan. 

******************************

Karena itulah, baiknya kamu-kamu para mahasiswa yang sudah punya visi misi untuk melakukan sesuatu yang besar nantinya, pikirkan rencana kalian masak-masak.

Saya selalu bilang ke anak-anak mahasiswa baru, mahasiswa harus punya cita-cita. Karena ngawur kalau masuk taksi lalu suruh dia jalan, sedangkan tujuannya "jalan dulu aja Pak, tujuannya di pikir nanti." Harus punya cita-cita dulu, lalu dicari jalan yang terbaik menuju ke sana. Perkara nanti kemudian cita-citanya berubah ya, no problem

Nah, kalau kalian mengatakan "mau S2 nanti", apakah kalian sudah tahu mau S2 apa? Dan tujuannya apa? Atau hanya sekadar "kalau cuma S1, susah cari kerja", yang menurut saya adalah mentalitas yang agak sulit dijustifikasi bagi peminat LPDP. Ketika kalian mau mendapatkan beasiswa LPDP yang merupakan beasiswa investasi masa depan Indonesia, ketika itu pula kalian tidak berhak bermimpi rendah. Lihatlah ke depan, apa yang kalian mau mengubah di negara ini. Carilah segala yang bisa dicari tentang hal itu. Kalian mahasiswa, orang sekolah, tidak berhak mengatakan, "Wah saya nggak tau" atau "Aduh itu terlalu tinggi untuk dicapai".

Nah, setelah sudah menemukan tujuan itu, lihatlah ke belakang. Kira-kira jalan apa yang harus kamu tempuh untuk mencapai itu. Mulai dari ilmu ilmu apa yang harus kamu pelajari, sehingga S2 dan/atau S3 apa (dan di mana) yang harus dijalani. Lalu terus mundur, kalian sebagai mahasiswa harus ngapain saja. Mulai dari memilih konsentrasi/penjurusan/peminatan, judul skripsi, mata kuliah pilihan, juga kegiatan-kegiatan non-akademis. 

Jangan sampai kalian sebagai mahasiswa hanya sekadar kupu-kupu (kuliah-pulang-kuliah-pulang), apalagi hanya jadi sarjana slide yang cuma menghafal untuk lulus ujian lalu lupa lagi. Pahami betul dengan mencari ilmu di dalam dan di luar kelas. Berdiskusilah dengan para dosen dan ahli. Lalu, carilah kegiatan-kegiatan non-akademis bukan hanya sekadar yang kalian sukai saja, tapi carilah yang jelas manfaatnya dan ikutilah dengan baik. 

Gunakanlah kegiatan-kegiatan ini untuk investasi. Inshaa Allah, pasti ada kegiatan yang kalian sukai dan juga memiliki manfaat untuk rencana ke depan kalian. Atau, kalau perlu, ikutilah kegiatan-kegiatan yang walaupun kalian kurang begitu minat tapi jelas manfaatnya untuk tujuan jangka panjang kalian.

Kemampuan bahasa juga. Ikutilah kegiatan kegiatan mulai dari les atau lainnya untuk mempersiapkan kemampuan bahasa. Saya sih susah cerita, karena alhamdulillah dulu bahasa pertama saya bahasa Inggris sehingga tidak ada pengalaman berjuang. Tapi, saya menyaksikan sendiri beberapa sahabat saya yang nyaris tidak bisa bahasa Inggris ternyata nekad ikut komunitas debat bahasa Inggris (sudah pasti sering kami ketawai, walaupun jelas kami bantu juga). Saya saksikan pula progres mereka hingga kemudian bisa berprestasi dan bahkan jadi presiden komunitas debat bahasa Inggris. Kalau mereka bisa berjuang seperti itu, kamu juga pasti bisa.

Dengan demikian, inshaa Allah bukan saja kalian sekadar memiliki nilai jual yang lebih untuk melamar beasiswa LPDP. Kalian bisa menjadi seorang insan yang bermanfaat dan potensial dengan segala pengalaman dan credential untuk memiliki peran besar untuk bangsa dan bahkan untuk dunia.

Akhir kata, seperti juga kata Mbak Hana, Allah juga yang menentukan. Dalam mengambil semua keputusan, selalu berdoa pada Allah bahwa keputusan yang kita ambil adalah yang terbaik, dan agar dapat diberikan kemudahan dan kekuatan untuk menjalankannya. Dalam melihat ke depan pun, sebagaimana yang saya tulis di essay LPDP, cita-cita saya adalah masuk surga. Dari sanalah saya mengurut langkah terbaik apa yang saya harus lakukan untuk masuk surga. 

Jangan lupa terus berdoa dan memohon petunjuk, mintalah kesabaran dan percayalah pada Allah. Kita boleh berrencana tapi Allah yang lebih tahu. Belum tentu "gagal" menurut kita adalah sebuah gagal, dan percaya pada Allah adalah kuncinya. Di balik setiap hasil ada peluang.

So, good luck!

 

Ilustrasi via physics.cu.ac.bd

305 Views
Robby Syahrial

Mantap nih informasinya..  Jan 7

Istigfaro Anjaz

Sangat bermanfaat mas...!!!  Jan 6

Write your answer View all answers to this question