selasar-loader

Apa perbedaan hukum dan teori dalam sains? Bagaimana memaknainya?

LINE it!
Answered Jan 05, 2017

Naufan Nurrosyid P
Pernah menjadi tukang bebersih di Lab TheoComp ITB

Hasil gambar untuk fond d écran science

“Jadi, itulah mengapa waktu bisa berubah berdasarkan kerangka pandang, sesuai dengan teori relativitas khusus Einstein”

Dan teman kita menjawab, “Ya elah Bro, itu cuma teori.”

Okay, teman kita benar. Relativitas Einstein adalah teori. Namun, penggunaan kata "cuma" di dalamnya merupakan sesuatu yang "kurang bijaksana". Banyak teman kita yang berpikir bahwa teori hanyalah pandangan beberapa orang yang kebenarannya masih belum terbukti. Teori hanya sebuah perkiraan dan belum tentu benar. Teori bisa saja salah. Lebih jauh lagi, teman-teman kita hanya mau mengakui kebenaran sesuatu jika ketika menjelaskannya menggunakan hukum. Ya, karena hukum tidak bisa salah. Dan semua teori yang telah teruji kebenarannya baru bisa dikatakan sebagai hukum. 

Dan di sinilah kebanyakan dari kita, yang telah salah memahami tentang teori dan hukum dalam sebuah sistem ilmiah. Dalam diskui kali ini, kita akan membahas bagaimana harusnya kita memperlakukan teori, hukum, serta kawan-kawannya seperti hipotesis, juga fakta.

WvQLdEoCvsNLqfD4iB3N_dkpfNgoFoao.jpeg

Pertama-tama, kita harus memahami apa itu fakta. Fakta adalah hasil observasi terhadap lingkungan. Seperti fakta bahwa apel yang kita lepaskan dari gengaman akan jatuh ke bawah. Sedangkan hipotesis adalah dugaan yang menjelaskan tentang suatu fenomena alam, yang berasal dari proses investigasi.

Hipotesis bukanlah suatu bukti, melainkan suatu dugaan yang dapat diuji kebenarannya melalui eksperimen. Adanya suatu gaya tarik, sebuah medan magnetik, maupun pengaruh listrik statis yang menyebabkan apel jatuh ke bawah adalah bentuk hipotesis.

Dari hipotesis-hipotesis tersebut, dilakukan serangkaian pengujian sehingga didapatkan hasil terbaik untuk menjelaskan fenomena jatuhnya apel ke bawah. Hasil pengujian tersebut kita kenal sebagai teori.

Teori tidak hanya sebuah pemikiran atau dugaan awal. Teori telah mengalami sangat banyak pengujian, dilakukan berkali-kali, hingga diakui kebenarannya untuk menjelaskan suatu fenomena. Bahkan, teori juga harus bisa digunakan untuk memprediksi suatu fenomena terkait.

Dari penjelasan tersebut, kita telah membangun suatu kerangka yang benar secara sains. Pertama-tama, kita perlu menemukan sebuah fakta dari pengamatan di sekitar kita. Setelah menemukan sesuatu, perkirakan mengapa hal tersebut bisa terjadi dengan cara mengumpulkan hipotesis sebanyak banyaknya. Langkah berikutnya uji hipotesis tersebut berkali-kali hingga didapatkan hasil yang tetap dan tepat untuk mendapatkan teori. Gunakan teori yang telah didapatkan untuk memprediksi hal-hal yang akan terjadi berkaitan dengan fenomena tersebut.

Agar lebih jelasnya, check this out!

Ketika kita melihat di luar cendela, kita mendapatkan pengamatan bahwa di luar sangat terang. Di luar sedang terang adalah fakta. Hipotesisnya adalah (1) meteor jatuh; (2) aktivitas alien; (3) matahari sedang di atas; (4) bulan sedang tenggelam. Dari hipotesis tersebut dilakukan pengujian dengan cara keluar dari rumah.

Pengamatan keluar dari rumah harus dilakukan berkali-kali agar terbentuk suatu teori. Dari pengujian tersebut, kita telah mendapatkan teori bahwa ketika matahari sedang di atas, maka di luar rumah akan terang. Bahkan, dengan ini kita bisa memprediksi bahwa esok ketika matahari sedang di atas, kemungkinan besar di luar akan terang.

Apakah teori kita tentang matahari dan terangnya luar rumah harus dibuang ketika suatu saat mendung? Tidak. Yang kita perlu hanya memperbarui teori tersebut.

Sekarang, apa itu hukum?

Dalam sains, hukum adalah statement mendetail yang menjelaskan suatu fenomena alam, yang didapatkan dari obesrvasi berulang-ulang. Penjelasan mendetail tersebut bahkan dapat dituliskan dalam matematika. Contoh, pengamatan gerak molekul gas yang selalu dipengaruhi suhu atau benda bermassa yang selalu saling tarik-menarik dalam jarak tertentu.

Hukum menjelaskan hal-hal tersebut secara detail, akan tetapi tidak memberi tahu kita mengapa hal tersebut bisa terjadi. Okay, sebagai contoh, bagaimana dengan gravitasi? Gravitasi adalah hukum, juga teori. Hukum gravitasi universal milik Newton, sesuai namanya adalah sebuah hukum.

Hukum ini menjelaskan secara presisi bagaimana dua buah benda dapat saling tarik-menarik berdasarkan massa dan jarak pisahnya. Dengan hukum ini, kita bisa mengukur gaya tarik yang terjadi dengan persamaan gravitasi Newton, yaitu F= G x m1 x m2 / r^2.

Dengan persamaan tersebut kita tahu bagaimana gaya tarik terjadi, tetapi jelas kita tidak dapat mengetahui mengapa hal tersebut terjadi. Untuk menjelaskannya, kita memperlukan teori gravitasi. Banyak teori yang telah berkembang untuk menjelaskan hal ini, tetapi dengan teori relativitas umum, Einstein mengembangkan teori gravitasi sebagai teori yang paling luas penerapannya serta yang paling dapat diterima untuk menjelaskan fenomena gravitasi.

Biar pun saat ini teori gravitasi milik Einstein tidak dapat diterapkan dalam skala atomik, bukan berarti teori ini kita buang. Bukan berarti teori gravitasi sudah usang dan tidak layak pakai sama sekali. Hingga saat ini, teori gravitasi belumlah lengkap dan harus dilakukan perbaikan-perbaikan tanpa menimbulkan masalah baru yang tak terjawab.

Analoginya sama seperti kita mempunyai mobil yang ban depannya bocor satu. Apakah kita harus membuang mobil kita? Tidak. Yang perlu dilakukan hanyalah mengganti ban mobil kita. Begitu pula cara kerja sebuah teori di dunia sains.

Tambahan analogi?

Suatu hukum dapat memprediksi seberapa jauh bola basket akan terbang sebelum jatuh ke tanah, ketika dilempar dengan sudut tertentu. Sedangkan teori bertugas untuk menjelaskan proses tersebut menggunakan pengaruh gravitasi pada gerak parabolik.

Jadi yap, mereka benar-benar berbeda.

Sebagai penutup, ada beberapa simpulan dari diskusi ini.

1. Teori dan hukum adalah dua hal yang berbeda, yang juga mempunyai tugas berbeda. Hukum menjelaskan bagaimana suatu fenomena terjadi, sedangkan teori menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi. It's about how and why. Teori ketika tidak terpatahkan pun, tidak akan pernah menjadi hukum. Baik teori maupun hukum, keduanya dibutuhkan untuk mengetahui keseluruhan informasi mengenai fenomena alam dengan jelas.

2.  Baik hukum maupun teori, keduanya bisa saja salah. Yang dilakukan adalah menggantikannya dengan hukum dan teori yang baru, yang dapat mengoreksi kesalahan-kesalahan terdahulu tanpa meruntuhkan yang sudah benar.

3. Jika suatu saat kita berada dalam percakapan,

“Jadi, itulah mengapa waktu bisa berubah berdasarkan kerangka pandang, sesuai dengan teori relativitas khusus Einstein.”

Dan teman kita menjawab, “Ya elah Bro, itu cuma teori.”

Maka, kita hanya perlu menjawab dengan, “Emang situ ada teori yang bisa menjelaskan lebih baik mengenai fenomena ini?"

 

#A2A

 

Ilustrasi via pinimg.com

1510 Views
Write your answer View all answers to this question