selasar-loader

Mengapa Indonesia tidak cemerlang di pentas olahraga dunia?

LINE it!
Answered Jan 05, 2017

Habibi Yusuf
PNS, alumni Teknik Elektro UI dan Manajemen Pertahanan ITB

iJTY_Jd3e3EVSp8tG8s-PfP2i3F7Om8V.jpg

Menurut saya, ada lima hal yang mempengaruhi kesuksesan atlet olahraga hingga ke pentas dunia:

  1. bakat (talent),
  2. mentalitas,
  3. asupan gizi,
  4. fasilitas, dan
  5. jam terbang kompetisi.

Kalau soal bakat (talent), saya kira Tuhan Maha Adil untuk memberikan bakat yang relatif sama untuk semua bangsa. Terbukti bahwa untuk cabang olahraga tertentu, prestasi atlet Indonesia menonjol, bahkan bisa menjadi juara, meski lebih banyak cabang olahraga yang kurang menonjol alias "melempem". Jadi, untuk faktor bakat, pasti kita punya. Barangkali yang belum optimal adalah upaya pencarian bakat-bakat alam yang bisa saja didapatkan di daerah-daerah pelosok.

Mentalitas terkait dengan pembinaan. Semua atlet juara dunia punya satu kesamaan karakter, yaitu rajin latihan dan tidak menyerah. Seorang Cristiano Ronaldo, misalnya, meski ia megabintang dengan bakat cemerlang, tetap datang paling awal ke pusat latihan klub agar kemampuannya terus terasah. Begitu pula sikap tidak menyerah hingga mengeluarkan seluruh batas kemampuan telah membuat banyak atlet berhasil menjadi pemenang. 

Saya tidak tahu pasti bagaimana realita para atlet Indonesia dari semua cabang olahraga. Namun, tayangan sepak bola yang sehari-hari kita tonton di televisi menunjukkan bahwa pembinaan atlet kita belum berhasil menunjukkan mental juara. Masih sering dijumpai para pemain yang mudah emosi, ngambekan, atau kurang bersemangat. Barangkali hal ini juga dipengaruhi oleh stamina yang kurang maksimal. Ini mungkin bisa ditanggulangi dengan pola latihan yang lebih keras dan lebih giat dengan pola pembinaan berstandar internasional.

Faktor gizi juga harus diperhatikan. Saya sering mendengar cerita atlet-atlet olahraga kita seenaknya makan mie ayam, nasi goreng, tempe/bakwan goreng pinggir jalan, serta makanan kurang sehat lainnya. Tentu untuk mendapatkan kondisi tubuh yang prima dengan stamina dan fungsi semua organ yang optimal, upaya pemberian gizi yang tepat harus didukung. Di Korea, misalnya, saya pernah mendengar bahwa untuk pembinaan sekelas olimpiade, setiap atlet mendapatkan pendampingan seorang ahli gizi dengan diet ketat sepanjang hari dan diawasi terus pelaksanaannya. Jadi, meski tidak di pusat pelatihan, asupan gizi para atlet tetap harus terjaga. Tentu saja program pemberian gizi yang tepat ini membutuhkan biaya.

Jam terbang kompetisi pasti berpengaruh pada prestasi seorang atlet. Kalau mau menghasilkan atlet berkelas dunia, para atlet harus sering diikutkan dalam kompetisi. Selain untuk mengejar persaingan prestasi, pengalaman-pengalaman sportivitas dapat membentuk mentalitas juara. Belum lagi bertemu dan belajar dari para atlet dari berbagai negara seharusnya dapat menjadi motivasi lebih untuk terus meningkatkan kemampuan. Bahkan bila perlu, sering mengirimkan atlet untuk mendapatkan pelatihan dan merasakan kompetisi di luar negeri juga akan mendukung. Dan sepertinya atlet-atlet Indonesia masih belum banyak yang mendapatkan pengalaman jam terbang kompetisi yang tinggi.

Terakhir adalah faktor fasilitas. Tentu saja yang dimaksud adalah fasilitas latihan, kesehatan, hingga pelatih yang tepat. Ini tentu berbanding lurus dengan biaya. Pembinaan atlet dengan berbagai fasilitas lengkap tentu sangat mahal. Tapi, kalau mau menghasilkan atlet juara dunia, ya, harus begitu. Ini pasti menjadi tantangan tersendiri, apalagi masih ditemui berbagai induk olahraga kita yang justru menjadi alat politik atau bisnis. Bukannya fokus membina atlet dan menyediakan fasilitas, tapi juga ngurusin bisnis (dan politik). Tidak jarang ada atlet atau pelatih yang memilih untuk pindah ke luar negeri (namun tidak balik membangun negaranya) karena fasilitas di sana yang jauh lebih baik.

 

Ilustrasi via serverpokeronline.com

2148 Views
Write your answer View all answers to this question