selasar-loader

Rusakkah tenun kebangsaan Anies Baswedan saat ia memenuhi undangan Ketua FPI Habib Rizieq?

LINE it!
Answered Jan 05, 2017

Anies Baswedan menjadi viral di media sosial setelah menghadiri undangan Ketua FPI, Habib Rizieq, Anies dianggap sebagai politisi pragmatis yang ingin mendulang suara dari massa Habib Rizieq. 


Arifki Chaniago
Political Commentator

B6_oQ_JIPgQ19ox4JsOeReLbrX_NgaNr.jpeg

Anies dan Tenun Kebangsaan

Banyak yang menyalahkan Anies Baswedan saat ia memenuhi undangan Ketua FPI, Habieb Rieziq, sebagai sesuatu yang fatal. Anies yang dikenal sebagai tokoh toleransi dengan “tenun kebangsaan”-nya, yang selama ini berteman dengan semua agama, golongan suku, dan lain-lain. Saat ia menemui Habibie Rieziq, maka Anies telah merusak "tenun kebangsaan" yang ia kumandangkan selama ini.

Logika-logika semacam itu telah menjadi viral di media sosial, bahkan itu semua dikampanyekan intelektual yang memiliki rekam jejak luar biasa. Menurut saya, kita boleh-boleh saja tidak sepakat dengan gerakan FPI, namun untuk tidak sepakat dengan keberadaannya, membubarkannya, dan membangun isu setiap orang yang dekat dengan Habib Rizieq sebagai orang yang sama dan sepakat dengan idenya.

Anies yang dulunya pendukung Jokowi, kampanye dan ide-ide yang dipopulerkannya lebih dekat dengan “ tenun kebangsaan”, tapi saat ia tidak lagi menjadi Mendikbud perubahan gagasan Anies mulai berubah. Perbedaan sikapnya itulah yang "digoreng" untuk menghantam Anies bahwa ide-ide “ tenun kebangsaan”-nya tidak lagi seperti dulu, ia sekarang lebih relegius dan dekat-dekat dengan FPI.

Secara politik, wajar-wajar saja sikap Anies seperti itu, sebagai calon Gubernur DKI Jakarta yang didukung Gerindra dan PKS, ia tentu memperhitungkan massa/pemilih kedua partai ini untuk mendulang suara. Sebagai orang yang diundang sebagai calon gubernur, tentu Anies harus mengikuti saran tim pemenangan, tak ada hubungannya dengan "tenun kebangsaan".

Tidak mungkin gaya yang sama digunakan Anies saat mendukung Jokowi-JK pada Pilpres 2014, isu politik dan visi calon presiden dan wakil presidennya berbeda yang saat itu Anies menjadi juru bicaranya, sekarang Anies menjadi calon gubernurnya, tim suksesnyalah yang menentukan pendekatan Anies kepada basis pemilih.

Jika ada yang ingin menghubung-hubungkan pun, Habib Rizieq, warga negara yang berhak mendapatkan posisi yang sama di depan manusia dan hukum. Saya tidak ingin membela siapa-siapa, tetapi mengkampanyekan toleransi dengan membenci orang yang tidak toleran sama saja mencari kesalahan semut di balik lautan, demi melupakan gajah di depan mata—sama-sama tidak toleran—tapi kampanyenya menjadi viral paling toleran.

Sepakat atau tidaknya dengan "tenun kebangsaan" Anies, serta kehadiranya menemui undangan Habib Rizieq. Demokrasi tidak mengajarkan untuk hina yang berbeda dan habisi yang tidak patuh. Mengingat kembali keberanian Anies saat menjadi Medikbud, mendukung peredaran buku-buku yang dilarang banyak kalangan. Anies berani waktu itu dan begitu pun sekarang memenuhi undangan Habib Rizieq.

Saat SBY berhenti berpidato, Jokowi berhenti "blusukan" dan Ahok berhenti blak-blakan, mungkinkah nanti mereka dianggap berbeda dengan gaya dan ciri khasnya yang dikenal publik. Semoga yang mengkritik "tenun kebangsaan" Anies Baswedan telah "menenun" hubungan yang baik dengan temannya secara langsung maupun di media sosial, yang berbeda suku, agama, kelompok, pendapat, dan pendapatan.

 

Ilustrasi via wp.com

262 Views
Write your answer View all answers to this question