selasar-loader

Apa keunggulan seseorang yang pernah belajar di pesantren?

LINE it!
Answered Aug 03, 2017

Mhd Fadly
Freelancer, penulis

t4rQM-EnJ61kWjp4jYg9Lg_RoT7UvkA9.jpg

Saya mondok dari sejak tamat SD hingga lulus tingkat SMA. Selama 6 tahun, saya telah masuk ke dalam dua pesantren; di pesantren pertama selama 2,5 tahun, lalu berpindah ke pesantren yang kedua karena di pesantren pertama diambang penutupan.

Secara umum, pendidikan pesantren tidak jauh berbeda dengan pendidikan di sekolah umum lainnya. Hanya saja, ada tambahan pelajaran agama di dalamnya. Di masa saya mondok, selain belajar agama, pada umumnya pesantren mengajarkan santrinya kemandirian serta mental yang tangguh untuk hidup di segala zaman yang akan dihadapi, terutama setelah keluar dari pesantren. Di pesantren, kita dilatih untuk mencuci dan menyetrika pakaian sendiri, belajar dari dini hari (jam 3) hingga tidur di akhir malam. Kita juga berlatih mengelola uang bekal hingga datang kiriman tambahan, bergaul hingga tinggal bersama teman yang banyak macam ragam dan persoalannya masing-masing, hidup disiplin dengan peraturan-peraturan yang mengikat, dan banyak lainnya yang bersifat mendidik mental seorang santri.

Berbeda dengan pesantren modern hari ini (yang saya tahu dari keluarga yang masih mondok di pesantren), mentalitas dan kemandirian tidak menjadi hal yang utama, karena tuntutan akademis para santri hanyalah belajar dan belajar. Orangtua menuntut guru di pesantren memberikan materi keilmuan yang banyak kepada anaknya. Para guru juga tertuntuk untuk menampakkan prestasi dari para siswanya di panggung kontes-kontes pendidikan. Tidak didapati lagi pesantren yang membiarkan para santri untuk mencuci dan menyetrika sendiri. Belajar dan belajar dan belajar adalah hal yang utama pada hari ini (belajar materi) hingga meninggalkan pelajaran kehidupan.

Dari segi keilmuan sesuai pengalaman saya, ilmu yang diberikan di pesantren adalah ilmu yang bersifat mendasar, yaitu hal-hal dasar untuk membuka wawasan kitab yang hingga saat ini belum dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Ilmu lainnya ialah wawasan akan struktur berpikir (Ushul Fiqh) dalam merumuskan persoalan-persoalan yang kontemporer. Itulah hal-hal mendasar yang digunakan sebagai pijakan ketika menghadapi perang opini di luar wilayah pesantren.

 

Ilustrasi via thejakartapost.com

229 Views
Write your answer View all answers to this question