selasar-loader

Mengapa penggunaan istilah Islamic State lebih populer daripada ISIS?

LINE it!
Answered Jul 30, 2017

Ketika membuka Wallstreet Journal, saya melihat mereka menggunakan istilah Islamic State daripada ISIS untuk berita-berita yang berkenaan dengan teroris di Iran dan Suriah tersebut. Sumber berita yang digunakan Kompas pun memilih istilah Islamic State daripada ISIS (yang kemudian diberi keterangan sebagai ISIS oleh redaktur Kompas). Padahal, ketika mulai populer, kelompok teroris ini lebih dikenal sebagai ISIS. Bila ada terminologi lain, istilah yang disebutkan ialah Daesh.


Agaton Kenshanahan
Penstudi Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran

Gambar terkait

BETUL dikatakan bahwa mulanya kelompok teroris pimpinan Abu Bakar Al Baghdadi tersebut terkenal dengan nama ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang merujuk pada tempat berkuasanya kelompok tersebut ketika mendeklarasikan kekhalifahan Islam (versi mereka) pada tahun 2014. Saat itu semua kantor berita dan sejumlah media swasta internasional berduyun-duyun memberitakan demikian sesuai dengan nama yang dideklarasikan. Saya masih ingat betul saat liburan kuliah waktu itu kebetulan menonton NHK (Jepang) ketika ISIS pertama kali menguasai dan mendeklrasikan khilafah di Mosul, Irak.

Sebutan kelompok ini bervariasi sebagaimana dijelaskan pada keterangan pertanyaan. ISIS dikenal pula lebih luas dengan pengertian Islamic State of Iraq and Sham (Syam: sebutan masa lampau hingga masa kolonial Inggris-Prancis merujuk pada wilayah yang sekarang merupakan Israel, Palestina, Yordania, Suriah, dan Lebanon). Dalam konteks lain ISIS disebut pula dengan ISIL atau Islamic State of Iraq and the Levant (Levant = Syam, hanya saja berbahasa Inggris agar tidak membingungkan masyarakat terutama yang ada di negara Barat).

Namun sebelum itu, sebenarnya ISIS lebih dulu bernama Islamic State of Iraq (ISI) ketika operasi ISIS pada saat itu berfokus di Irak pasca ditarik mundurnya pasukan Amerika Serikat secara bertahap dari negara tersebut. Karena kondisi Suriah yang sedang tidak stabil bersamaan dengan merebaknya Arab Spring, Al Baghdadi mengirim seorang bernama Abu Muhammad Al Jaulani ke Suriah untuk memanfaatkan keadaan tersebut sebagai upaya memperluas wilayah kekuasaan. Dengan membawa separuh sumber daya dari Irak, Al Jaulani membikin suatu kelompok dengan nama Jabhat Al Nusrah (Front Kemenangan) di Suriah.

Pada tahun 2013, Al Baghdadi menyatukan kelompok ISI dan Jabhat Al Nusrah di bawah bendera ISIS yang kita kenal saat ini. Setelah mendeklarasikan khilafah di Mosul pada pertengahan tahun 2014, ISIS tak lama kemudian mengganti namanya menjadi Al-Daulah Al-Islamiyyah (Islamic State: Negara Islam) saja. Mereka menghilangkan embel-embel nama negara Irak dan Suriah/Syam untuk melayani tujuan yang lebih luas: mendirikan khilafah di seluruh dunia.

"It would have no country name after it because the Islamic State was now here to remain as the Caliphate, which would soon expand and spread to every land in the world within 100 years, by the will of Allah." [(IS) ini tidak memiliki embel-embel nama negara di belakangnya karena Islamic State saat ini berdiri sebagai sebuah kekhalifahan, yang mana kemudian akan meluas dan menyebar ke setiap negeri di seluruh dunia dalam tempo 100 tahun, dengan izin Allah.] - (The Islamic State, 2015)

Dari sinilah penyebutan IS menjadi lebih dikenal oleh media, karena pewartaannya pasti akan mengikuti objek yang diwartakannya. BBC misalnya, mendeklarasikan diri untuk menggunakan istilah IS ini dikarenakan hal tersebut. Jadi, sebab popularitas nama tersebut adalah karena IS yang memintanya sendiri dengan mengumumkannya secara luas melalui media.

"The announcement (of the name changes to IS) was made in a newly released audio message and written statement purportedly from the official spokesman of ISIS, Abu Mohammed al-Adnani al-Shami." - (CNN, 2015)

Media lain mungkin masih ada yang menyebutnya ISIS/L merujuk pada nama sebelumnya. Harian Kompas (unit usaha berbeda dari Kompas.com sebagaimana yang dimaksud pada berita di atas) pun masih menggunakan kata NIIS (Negara Islam Irak dan Suriah) ketimbang NI (Negara Islam) ketika membahas IS. Amerika Serikat dan PBB juga lebih sering menggunakan istilah ISIL. 

Adapun di beberapa negara lain, istilah Daesh lebih dikenal sebagai upaya menurunkan legitimasi IS terhadap eksistensinya. Ini disebabkan karena Daesh, oleh anggota IS sendiri, dianggap memiliki konotasi yang kurang baik. Padahal Daesh hanyalah akronim dari Al Daulah Al Islamiya fil Iraq wa Al Sham (Negara Islam di Irak dan Syam) yang memiliki makna yang sama dengan ISIS/L. Daesh digunakan di beberapa negara Arab dan dalam beberapa kesempatan juga digunakan oleh media dan politisi di negara Barat untuk mengejek IS.

Foto: Ilustrasi sejumlah pria membawa bendera IS. (AFP/Tauseef Mustafa)

543 Views
Nurmala Sari

karena islamic state itu untuk belajar..klo isis untuk menghajar  Aug 18, 2017

Write your answer View all answers to this question