selasar-loader

Siapa yang akan memenangkan Pilkada Jakarta 15 Februari 2017?

LINE it!
Answered Dec 26, 2016

Arifki Chaniago
Political Commentator

Hasil gambar untuk ahok pilkada

Jawabnya Ahok. Alasannya adalah sebagai berikut.

Sampai sekarang, Ahok-Djarot masih berkemungkinan besar untuk menang pada Pilkada DKI Jakarta Fabruari 2017 nanti. Alasannya logis, Ahok-Djarot sama-sama petahana. Pemilih DKI Jakarta sulit berubah dengan dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok (Surat Al-Maidaj ayat 51).

Malahan perkembangan isu penistaan agama Ahok menyebabkan masyarakat lupa dengan persoalan utama yang bisa menjerat Ahok, reklamasi, penggusuran, dan Sumber Waras. Ledakan isu penistaan agama sementara waktu memang menurunkan popularitas Ahok, tetapi sebaliknya gelombang kasihan yang menyelimuti Ahok.

Dengan mudah, prestasinya sebagai petahana kembali dipopulerkannya, Habieb Rizeq pun sekarang juga dilaporkan atas dugaan penistaan agama. Fokus publik pasti lebih mengarah ke persoalan yang menjerat Ketua FPI ini dibandingkan masalah Ahok.

Agus-Sylvi dan Anies-Sandi masih belum juga memberikan kejutan yang signifikan, misalnya, fokusnya untuk “menggoreng” kegagalan Ahok-Djarot tentang penggusuran, reklamasi, dan Sumber Waras. Dua pasang penantang Ahok-Djarot masih kehilangan starategi, misalnya, serangan melalui udaranya masih lemah.

Pendukung Ahok berhasil mengembalikan framing bahwa Ahok adalah minoritas yang tidak mungkin salah bersikap. Inilah yang menjadikan Ahok tetap di atas angin dibandingkan calon lain. Ukuran demokrasi itu diukur saat orang biasa dan tidak disangka-sangka menjadi pemimpin. Obama yang berlatar belakang kulit hitam berhasil memimpin Amerika selama dua periode dan pemilu AS beberapa lalu yang memenangkan Trump yang antimuslim dan imigran.

Indonesia pun telah membuktikan demokrasi yang luar biasa dengan mengantarkan Jokowi sebagai presiden tahun 2014, orang yang berasal dari latar belakang biasa-biasa saja. Jokowi telah mendobrak sistem kaderisasi presiden Indonesia selama ini yang berasal dari keluar terpandang: ningrat, dinasti, dan lain-lain. Jika kemasannya lebih bagus lagi, apabila Ahok menang menjadi Gubernur DKI Jakarta, kapan lagi minoritas menjadi presiden tahun 2019.

Ini masalah selera politik saja, pemilih Indonesia itu pembosan—karakter yang dimiliki Ahok mulai disenangi masyarakat DKI Jakarta dan pengagum demokrasi.  Jadi, bukan hanya Agus-Sylvi dan Anies-Sandi yang harus berhati-hati, tapi juga Jokowi.

Ilustrasi via static6.com

203 Views
Aldila Azam

Saya melihat suatu sesat pikir dari argumen Anda. Anda tidak dapat menggeneralisasi semua pemilih Indonesia merupakan "pembosan". Karena dilapangan justru banyak yanh membenci karakter dan gaya pemimpin Ahok, khususnya dari kalangan rakyat kecil dan marginal. Anak-anak muda Jakarta mungkin yang Anda lihat sebagai pembosan. Karena karakter anak muda sekarang sudah sangat kebablasan dengan yang kekinian. Bagi mereka, yang ada di layar kaca smartphone atau laptop mereka adalah suatu yang sudah pasti bagus. Ini karena karakter anak muda sekarang yang memang tidak bisa lepas dari gadget, sehingga pilihan politik mereka tergantung branding yang media arus utama bawa. Tapi bagaimana pun juga, Anda tidak dapat menggeneralisasikan. Di Jakarta bukan hanya anak muda kekiniam yang hidup, ada kaum miskin, para orang tua, sesepuh, dan juga ada mahasiswa-mahasiswa yang pikirannya masih kritis dan selalu melihat ke lapangan dibanding ke gadget. Inilah yang membuat Ahok belum pasti menang di DKI.  Jan 3, 2017

Write your answer View all answers to this question