selasar-loader

Bagaimana metode yang paling efektif untuk memasarkan dan meningkatkan brand equity pasangan calon peserta pemilu yang memiliki brand problem?

LINE it!
Answered Dec 24, 2016

Arief Mizan
Suka politik terutama komunikasi politik

Hasil gambar untuk brand equity pasangan calon pemilu

Ilustrasi via blogspot.com

Ada satu istilah yang baru saya dengar, yaitu Brand Problem. Saya asumsikan saja maknanya adalah calon tersebut memiliki beberapa masalah terkait personal brand-nya. (saya belum menemukan padanan kata dalam bahasa Indonesia yang bisa mengartikan brand.) 

Dan permasalahan terkait personal brand itu juga saya asumsikan berupa hal negatif yang dimilikinya berkaitan dengan citra, reputasi, rekam jejak, kasus yang dihadapi, atau bahkan secara fisik atau tampilan memiliki masalah. Hehehe.

Kemudian, saya mencoba memaknai hal "meningkatkan brand equity" yang secara harfiah bermakna modal brand. Jadi, sesuatu yang dimiliki oleh brand tersebut yang membuat dia bisa dimaknai secara positif atau negatif oleh khalayak. Brand equity umumnya diwakili oleh tampilan fisik, kultur, budaya, habit, kebiasaan termasuk juga rekam jejak, reputasi yang ada pada brand tersebut.

Lalu, mengenai metode pemasaran yang efektif. Pemasaran sendiri adalah sebuah strategi untuk memikat khalayak yang dituju (target market) untuk tahu, peduli, suka, dan akhirnya membeli barang/jasa/ide atau diri kita sendiri. Tidak hanya sampai di situ, brand kemudian harus menjalin ikatan emosional dengan penggunanya. 

Okeh...

Jadi, jawabannya, tentu banyak metode yang dapat dilakukan agar brand yang memiliki masalah dapat recovery dan bahkan bisa memenangkan target market. Metode yang paling kuno dalam strategi pemasaran adalah penekanan pada marketing mix: 4P. Product, Price, Place, Promotion. Barangnya dibagusin dulu, harganya kompetitif, distribusinya baik, dan dipromosikan dengan baik. Bagaimana menerjemahkannya dalam personal brand?

1. Product.

Sang kandidat harus berbenah. Publik akan cepat switch dari antipati ke simpati ketika brand tersebut memperbaiki diri. Dari sikap, ucapan, tampilan, dan sebagainya harus menunjukkan niat berubah ke arah yang lebih baik.

2. Price.

Value alias nilai-nilai yang dimiliki harus cukup kuat dan terjangkau oleh khalayak. Ide-idenya jangan terlalu njelimet. Sederhana, mudah dipahami, dan menggunakan media yang murah untuk memangkas biaya kampanye sehingga lebih banyak kegiatan yang menyentuh warga.

3. Place.

Jalur komunikasi yang efektif dan efisien. Perhatikan jalur komunikasi yang paling diterima warga; yang paling ekonomis namun dengan frekuensi yang sering. Repetisi menjadi penting karena jadwal kampanye tidak panjang. Pesan harus jelas dan berulang kali disampaikan.

4. Promotion.

Promosi harus unik dan berbeda dengan kandidat lain. Jika di antara 1000 sapi ada 1 sapi yang berwarna ungu, tentulah semua mata tertuju pada Purple Cow tadi. Jadi, kandidat harus mampu melepaskan diri dari keseragaman. Seperti Trump, ia mengambil strategi promosi yang benar-benar berbeda dengan kandidat lain, bukan saja ketika melawan Hillary melainkan ketika bersaing dengan sesama kandidat Republik. 

Dan yang paling utama adalah jalin ikatan emosional antara kadidat dan para pemilih.

Jadi jika brand Anda bermasalah, itu bukan akhir dunia. Trump yang sedemikian parah brand-nya saja bisa menang.

Selamat bertarung!

3DdLOs45mK23bnpcboC_A4Usc1WHPBqs.jpg

Ilustrasi via huffingtonpost.com

245 Views
Ma Isa Lombu

kasih image dong zan tulisannya. Biar makin mempercantik jawaban yang juga cantik  Dec 24, 2016

Write your answer View all answers to this question