selasar-loader

Apa itu Tongue/Lip Tie dan apa solusinya?

LINE it!
Answered Jul 26, 2017

Ma Isa Lombu
Yang Selalu Ingin Sehat

5YFuZxc95GZhy6BTAmiWZOAqIDmOXuta.jpg

Secara sederhana, Tongue/lip-tie adalah kondisi genetis pada organ mulut (lidah dan bibir atas) yang membuat flexibilitas gerakan lidah dan mulut menjadi terganggu. Kondisi ini umumnya ditemui pada bayi (umumnya bayi laki-laki) yang pada akhirnya akan mengganggu proses makan ataupun menyusui si bayi tersebut.

a9gS0ITysAXAe0PqJKE6aYGfdWjPyExg.jpg

Mengapa tongue/lip-tie mengganggu proses makan, terutama menyusui? 

Seperti kita ketahui bahwa ASI (Air Susu Ibu) diproduksi melalui mekanisme demand based. Demand (of ASI) creates its own supply. Mudahnya, makin banyak ASI diminta (oleh si bayi), makin besar pula produksi ASI oleh sang bunda. 

Lidah bayi yang kaku (tidak flexible) akan membuat bayi tidak dapat menyusui dengan baik, demand berkurang, supply juga ikut berkurang. Karena keadaan itulah maka si bayi menjadi kurus yang tentu akan menyebabkan bunda makin stres karena sang pujaan hati selalu menangis karena kelaparan. Belum selesai sampai di sana, stresnya bunda akan berdampak kepada supply ASI yang makin berkurang. Begitu terus. Circular. Seperti tidak ada ujung.

Terganggunya flexibilitas gerakan lidah dan mulut ini sebenarnya "tidak akan menjadi terlalu bermasalah" manakala sang orang tua langsung menjadikan susu formula sebagai nutrisi yang mensubtitusi ASI kala supply-nya berkurang. 

Namun, tongue-tie yang berdampak pada supply ASI tentu akan jadi masalah besar untuk para orang tua yang concern akan konsumsi ASI untuk sang pujaan hati selama dua tahun.

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَنْ يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (QS. Al-Baqarah: 233).

Selain sudah menjadi tugas orang tua menjaminkan sang pujaan hati mengkonsumsi ASI selama dua tahun karena perintah Tuhan dan agama, secara medis ASI memiliki kualitas nutrisi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan susu formula terbaik sekalipun. 

Secara umum, ASI mengandung air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, sel-sel darah putih, enzim, dan asam amino yang penting untuk kecerdasan dan daya tahan tubuh si bayi.

Sebagai orang tua yang patuh akan perintah Tuhan dan peduli akan optimalisasi perkembangan si buah hati, saya dan istri termasuk jenis orang tua yang concern akan konsumsi ASI ekslusif 6 bulan hingga dua tahun penuh. Persis seperti yang Tuhan bilang dalam Alquran.

Untuk itulah tongue/lip-tie adalah masalah berat untuk kami.

Terus terang saat-saat itu adalah masa yang berat. Anak kami, Amartya Syifa Fatiha menjadi bayi yang kurus, divonis kurang gizi, bobot tumbuh kurang dari standar yang ditetapkan WHO dan selalu menangis. Kondisi ini berlangsung sangat lama, kurang lebih 3 bulan.

Hipotesa kami saat itu adalah Fatiha menjadi kurus dan selalu menangis karena kelaparan. ASI yang diproduksi tidak keluar secara normal. 

Setiap bulan kala melakukan kunjungan dokter, sang dokter anak selalu bilang bahwa bobot anak kami mengalami masalah. Kurangnya berat badan dikhawatirkan akan berdampak pada perkembangan si buah hati. (sayangnya) Dokter tidak dapat menjelaskan secara jelas dan tegas tentang apa yang terjadi pada Fatiha (panggilan anak kami). Sang dokter hanya menyarankan agar kami menambah asupan nutrisi dengan susu formula.

Memiliki anak yang cerdas, optimal perkembangan fisik dan kompleksitas neuron di otak serta tentunya memiliki ketahanan tubuh yang baik, adalah impian kami sejak Fatiha berada dalam kandungan. Kami percaya bahwa ikhtiar minum ASI adalah metode yang paling efektif untuk mewujudkan hal tersebut. Bukan dengan susu formula. Meski dengan susu formula terbaik sekalipun. 

Mendengar usulan dokter anak untuk memberikan support tambahan susu formula untuk Fatiha jelas membuat kami sedih. Sangat sedih...

Dengan niat yang kuat, kami terus berusaha agar supply ASI untuk Fatiha tersedia dengan baik. Untuk itulah segala cara kami (istri saya) lakukan mulai dari mengkonsumsi daun katuk, kacang hijau, minum ASI booster dan usaha-usaha tradisional-konvensional lainnya. Sebagai suami, saya juga senantiasa membantu dan men-support istri saya agar berada dalam kondisi yang nyaman dan tidak stress. 

Namun usaha itu gagal. Tiga bulan lebih Fatiha divonis mengalami gizi buruk. 

Sedih..

Ternyata, banjirnya informasi di era teknologi sekarang ini juga menjadi masalah tersendiri bagi kami yang ingin mencari informasi secara cepat dan dari sumber yang kredibel.

Google memberikan terlalu banyak usulan, entah mana yang kredibel mana yang tidak. Facebook kala itu dibanjiri dengan perang politik dan jualan gamis. Twitter tidak memberi solusi, Path apa lagi.

Intinya saat itu pencarian informasi akan kondisi Fatiha yang semakin kurus dan siapa solution maker-nya, seakan mencapai jalan buntu.

Hingga suatu saat..

Ada salah satu kolega saya berkunjung ke rumah. Menjenguk Fatiha. Dengan tegas ia bilang bahwa kami harus konsul ke dokter yang tepat. Tidak banyak cakap, ia langsung merekomendasikan kami untuk konsul ke dokter dr. Asti Praborini, MD, Pediatrician, IBCLC, seorang dokter anak sub spesialis laktasi senior. Pejuang ASI kata kolega saya saat itu. 

Seperti mendapatkan pencerahan, kami pun langsung mencari tau dimana dan kapan beliau praktik. Dengan sigap, esok harinya (sabtu) kami langsung membawa Fatiha menuju RS Puri Cinere untuk konsul dengan sang dokter legendaris itu.

Saya ingat benar, tidak lama setelah masuk ruangan, kami pun bercerita akan keadaan yang dialami oleh Fatiha. Dengan suaranya yang cepat dan tegas dokter Asti bertanya, “Trus mau ngapain?”. Dengan agak kikuk, saya bilang pada beliau, “Saya ingin anak kami sehat seperti semula dengan mengkonsumsi ASI selama dua tahun penuh”. Dokter Asti langsung mencecar saya dengan pertanyaan lanjutan, “Apa alasannya?” Dengan tegas dengan lumayan takut-takut saya bilang, “perintah Allah dalam Alquran, dok. Itu saja”.

Sepertinya saya menjawab dengan benar. Tidak lama setelah itu dokter Asti tersenyum. 

Dengan semangat, beliau menjelaskan tentang keadaan Fatiha dan apa solusi terbaik untuk anak kami. Kami sama sekali tidak ragu akan perjuangan, kredibilitas, kapasitas dan pengalaman beliau untuk kasus ini. Maka dengan sigap, kami mengikuti seluruh saran dokter Asti agar Fatiha diberikan tindakan frenotomy

L2MuPhVT_Z-hr2pwxptaBLT6uo6YoYhS.jpg

Frenotomy adalah tindakan medis yang dilakukan untuk memotong/membelah tongue-tie dengan menggunakan gunting yang telah disterilkan agar sisi bawah lidah tidak terlalu menempel dengan dasar mulut sehingga lidah dapat bergerak dengan lebih leluasa. Prosedur ini berlangsung cepat dan umumnya tidak terjadi pendarahan besar. 

Fatiha menangis keras setelah “selaput lidah”-nya dipotong. Dengan sigap, dokter Asti menenangkan kami dan benar, setelah Fatiha menyusu ASI ibunya, tangisnya terhenti. Semuanya kembali normal. Setelah itu, kami diminta untuk konsul ke Ratih Ayu Wulandari, MD, IBCLC terkait dengan tips dan trik program menyusui untuk bayi pasca-frenotomy.

Satu bulan setelah tindakan frenotomy adalah hari-hari yang challanging untuk kami. Satu bulan pertama inilah satu bulan yang krusial apakah program menyusui yang dibuat dokter Asti berhasil atau tidak. Dalam setiap konsul mingguan, saya selalu mencatat apa yang beliau katakan. Detail. Satu demi satu, berusaha semua informasi saya tangkap, terserap dan dilakukan dengan baik.

Dalam program tersebut, Fatiha selama satu bulan harus minum ASI dengan bantuan selang berdiameter kecil mirip infus yang berisi ASI (donor). Tabung kotak berisi ASI (donor) itu selalu menemani Fatiha, istri saya dan tentu saya sendiri, dalam satu bulan yang sangat menegangkan itu.

Alhamdulillah, ada progress. Berat badan Fatiha perlahan naik. Sesuai harapan dokter Asti. Akhirnya dengan hati plong, satu bulan yang menegangkan dengan "kotak infus ASI” dapat kami lalui dengan baik.

Saya juga ingat, berkali-kali dokter Asti bilang bahwa tidak jarang pasennya yang give up dengan program yang ia buat. Dia bilang dengan bahasa yang lugas, “Yah, akhirnya dia minum sufor lagi" Saya merasakan aura kesedihan pada raut wajahnya. Sedih karena perjuangannya gagal karena pasiennya (si orang tua bayi) tidak percaya akan metode yang sedang dijalaninya. 

Dengan tegas dia bilang kepada kami, “Untuk itu kalian harus sukses! Inget khan kenapa datang ke saya waktu itu? Inget kan kenapa menyusui dua tahun penuh itu penting?”. "Iya dok.." Jawab kami kompak.

Satu tahun berjalan, alhamdulillah berat badan Fatiha sudah on the track dan ia tumbuh dengan baik menjadi anak ASI. Seperti harapan kami, dengan mengkonsumsi ASI secara baik, ia dapat menjadi anak yang sehat dan cerdas.

PR kami ke depan hanyalah memastikan bahwa Fatiha dapat terus konsisten mengkonsumsi ASI hingga dua tahun penuh.

Sempat terpikir di benak saya agar Fatiha juga kami dorong menjadi seperti dokter Asti. Seorang dokter anak sekaligus menjadi pejuang ASI yang gigih dan idealis. Sosok yang bekerja dan berjuang untuk mewujudkan generasi anak-anak Indonesia yang tumbuh secara optimal dengan konsumsi ASI yang baik dan proporsional.

Terus terang, saya agak "emosional" ketika menulis jawaban ini, karena selama satu tahun penuh saya terlibat langsung dalam program yang super tough. Saya melihat betul semuanya berjuang keras, baik Fatiha, istri saya dan tentunya dokter Asti dengan segala petuah serta semangat yang senantiasa beliau berikan kepada kami.

Saat jawaban ini dibuat, Fatiha sudah berumur 2 tahun 6 bulan. Ia sudah sekolah sekarang pada program toddler di salah satu sekolah Islam Terpadu di Depok.

Perjalanan menjadi seorang ayah ASI bersama para dokter pejuang tentu merupakan saat-saat yang sangat berkesan dan tidak dapat kami lupakan seumur hidup.

Tidak akan pernah!

Kami berharap nanti, Fatiha bisa tumbuh sehat, sahlihah dan cerdas untuk melanjutkan perjuangan dokter Asti untuk mewujudkan generasi masa depan Indonesia yang lebih baik. Lebih sehat, lebih cerdas. Aamiin.

Terima kasih, dok..

Bn1q8GGJcV798Whsc-EMBqr7XGUtpW32.jpg

foto via dokumen pribadi

858 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia