selasar-loader

Novel fiksi ilmiah apa yang menjadi favorit Anda dan mengapa?

LINE it!
Answered Jul 21, 2017

6k3zh2CAx93Gsj1sRttYyM2iN_D7ZqRc.jpg

Fiksi ilmiah adalah literatur ide. Sebagai fiksi, pengarang novel genre ini mempunyai penerawangan tentang masa depan yang sering melampaui masanya dan kelak terbukti kebenarannya. Misalnya: kapal selam yang telah diramalkan oleh Jules Verne, robot oleh Karel Čapek, dan lain sebagainya.

Jika Anda suka membaca kisah fiksi, mungkin Anda pernah membaca genre ini dan menjadi favorit Anda. 


Pepih Nugraha
Pecinta buku, buku apapun akan saya baca asalkan bahasanya dapat dimengerti

HEgkB2no9qfMJ5FWDZdXUU2vl5eB_05G.jpg

Novel fiksi ilmiah yang saya suka adalah Frankenstein karya Mary Shelley. Untuk menjawab mengapa saya menjadikannya novel fiksi ilmiah favorit, saya akan mengungkapkannya lewat resensi buku yang saya tulis mengenai novel tersebut, yang pernah dimuat Harian Kompas, Jumat 10 Februari 1995 halaman 12, sebagai berikut.

FRANKENSTEIN, "DOMBA" DEWA ILMU-ILMU SESAT

Mary Shelley, Frankenstein (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 1994), 370 halaman.

TERBIT pertama kali 11 Maret 1818, Shelley memberi judul novelnya Frankenstein Or the Modern Prometheus. Cerita dimulai dengan surat-menyurat antara R Walton, seorang ilmuwan yang pada awal abad ke-18 menjelajah Kutub Utara dengan adiknya Mrs Saville. Dalam keterasingannya di ujung benua beku, R Walton bertemu dengan manusia yang nyaris mati membeku terapung dalam sebuah kereta es.

Jarak yang memisahkan belahan dunia paling utara - yang beku berselimutkan salju abadi - dengan Inggris yang hiruk-pikuk tidak membuat komunikasi kakak-beradik ini putus. Dari penuturan R Walton inilah aksi dendam membara antara Frankenstein (manusia yang hampir mati beku itu) dengan makhluk berwajah buruk ciptaannya bergulir.

Soal penjelajahan R Walton dalam usahanya mencari dan menemukan ilmu pengetahuan tentang kutub utara, boleh jadi Shelley terilusi gejolak ilmuwan pada masanya atau pada masa Frankenstein "hidup", yang sama-sama menaruh perhatian serta minat dalam membongkar rahasia kebekuan alam kutub. Sekadar menyebut beberapa nama, antara lain Sir John Franklin (1786-1847) penjelajah kutub utara, atau Nathanael Palmer (1799-1877), dan Fabian von Bellingshausen (1779-1852) yang mencoba mencari jalan ke kutub selatan.

Secara sengaja atau tidak, Shelley terkesan telah terjebak dalam cerita berbingkai ala sastra Melayu kuno. Artinya si tokoh bercerita tentang tokoh lain di mana tokoh lain ini juga punya cerita, tetapi ungkapan emosional seperti marah, gembira, putus asa, semangat jiwa, dendam membara, dan segala permainan rasa menemukan bentuknya yang paling menawan, yakni bahasa yang teramat puitis.

Efek psikologis dan ajaran filsafat moral yang dikandungnya amat melelahkan untuk dipahami, tetapi Shelley tidak sekadar mengobral penguasaan bahasa puitisnya (kebetulan Shelley juga seorang penyair). Dalam kalimat-kalimat terpilihnya, ia justru hendak menerangkan makna kehidupan, paling tidak bagi tokoh-tokoh yang terlibat dalam ceritanya.

Ilmuwan Sejati

Victor Frankenstein, demikian nama lengkap si empunya tokoh cerita, adalah tipe seorang anak muda yang cerdas dan ambisius, yang rasa hausnya akan ilmu pengetahuan tidak pernah terpuaskan. Semenjak kanak-kanak Victor kecil sudah gemar mengamati gejala-gejala alam. Petir yang menyambar-nyambar menghanguskan pohon eik, perubahan siang-malam, pergantian musim, dan rahasia-rahasia alam yang menakjubkan adalah pemandangan sehari-hari.

Tetapi dalam perjalanan hidupnya, Frankenstein terjerumus dan terpenjara oleh ajaran-ajaran ilmuwan-ilmuwan purba dewa pujaannya, yakni Cornelius Agrippa (1486-1535), Paracelcus (1493-1541).

Ilmuwan-ilmuwan ini bukan ilmuwan fiktif. Mereka pernah menyumbang serta memperkaya khasanah jenis "ilmu pengetahuan baru" pada masanya, meski ilmu-ilmu mereka lebih condong ke ilmu klenik dan magic daripada ilmu filsafat atau kedokteran. Di sini terlihat usaha Shelley yang tidak main-main, tidak asal menulis novel fiktif, melainkan merujuk pada ilmu-ilmu lain, yang membuat novelnya layak menempati posisi terhormat dalam ajaran fiksi-fiksi ilmiah.

Pada usia 17 tahun, Frankenstein harus meninggalkan kotanya dan saudara-saudaranya untuk menuntut ilmu di Ingolstadt. Kemalangan menimpanya sejak awal perjalanan menuju kota pusat ilmu pengetahuan itu, yakni dengan kematian ibunda tercinta. "Anak-anakku, harapan terbesarku untuk memperoleh kebahagiaan di masa mendatang terletak pada ikatan antara kalian berdua," pesan ibunya sebelum meninggal seraya mempersatukan tangan Frankenstein dengan Elizabeth Lavenza, "saudara sepupu" yang kelak bakal menjadi calon istrinya.

Dengan perasaan tegar, harus ia tinggalkan ayahnya yang berselimutkan nestapa, Elizabeth yang berduka, juga Henry Clerval, sahabat setianya yang kecewa karena tidak memperoleh izin ayahnya untuk sama-sama bersekolah.

Berbekal teori dewa-dewa ilmu pengetahuan pujaannya yang berjejalan di kepalanya, Victor Frankenstein berangkat menuju negeri impian. Tetapi yang ia dapatkan di Ingolstadt adalah kekecewaan demi kekecewaan. Ia harus berhadapan dengan cabang-cabang ilmu pengetahuan alam (terutama ilmu kimia dan faal) yang asing baginya, yang benar-benar berbeda dengan ajaran-ajaran dewa-dewa ilmu pengetahuan pujaannya. Apalagi ia harus berhadapan dengan Prof M Krempe, yang sejak semula sudah melecehkan otak Frankenstein yang menurutnya sudah terjejali teori-teori sampah.

"Setiap waktumu kau gunakan untuk mengisi otakmu dengan teori-teori sesat. Ya Tuhan, di gurun pasir mana kau tinggal, sehingga tak ada seorang pun yang bisa memberimu nasihat? Tuan Frankenstein yang terhormat, kau harus belajar dari permulaan lagi!" Bagai petir menyambar, Frankenstein amat geram atas pelecehan profesornya.

Memutar Logika

Frankenstein melihat bagaimana kematian selalu berhasil mengalahkan kehidupan. Ia hendak memutar logika yang telah sejak lama diakui sebagai kebenaran mutlak ini, yakni kematian juga bisa menciptakan kehidupan. Dari usaha kerasnya yang tanpa batas inilah kemudian tercipta sesosok makhluk baru yang mengerikan. Ukuran tubuhnya di luar batas ukuran tubuh manusia normal, karena kesulitannya membuat bagian-bagian tubuh manusia yang amat rumit.

Boleh dibilang, hanya "manusia" dengan anggota-anggota tubuh kasar sajalah yang tercipta dari usaha kerasnya. Seperti inilah gambaran makhluk ciptaan Frankenstein: kulit kuning yang hampir tidak dapat menyembunyikan jaringan otot dan pembuluh darah di bawahnya, rambut sehitam beledu panjang dan lebat, mata sewarna dengan lekuk mata, wajah keriput dan bibir lurus berwarna hitam.

Apa yang terjadi kemudian pada diri Frankenstein adalah kekecewaan mendalam. Setelah makhluk ciptaannya hidup (dihidupkan), ia membayangkan kengerian yang menyesakkan napas serta rasa jijik yang mencekik, apalagi di kemudian hari makhluk ciptaannya - yang kekuatannya berpuluh-puluh kali kekuatan manusia biasa - itu menunjukkan sifat-sifat jahat dan pendendam.

Pada awal kehidupannya, makhluk tanpa nama ini menganggap Frankenstein adalah tuan dan sekaligus penciptanya yang layak dihormati. Tetapi karena rasa ngeri, Frankenstein cenderung menghindarinya. Puncaknya adalah tatkala si makhluk ciptaannya menuntut untuk menciptakan makhluk baru sebagai pasangan hidupnya, setelah ia ditolak dan dicampakkan manusia karena ukuran tubuhnya yang mengerikan.

Frankenstein menolak, sebab ia merasa kelangsungan seluruh hidup manusia terancam hanya oleh sesosok makhluk mengerikan ini. Bagaimana pula kalau ada pasangan yang kelak akan menghasilkan keturunan. Penolakan ini berakibat fatal, sebab orang-orang terdekat Frankenstein menemui ajal di tangan makhluk ciptaannya, seperti William, Justine, Henry Clerval, dan bahkan Elizabeth Lavenza, calon istrinya. Frankenstein sendiri menemui ajal dalam usahanya mengejar makhluk ciptaannya di kutub utara, sampai R Walton kemudian menemukannya.

"Manusia" Tercabik

Ada gambaran beberapa watak manusia yang saling berbeda dan bertentangan dalam novel Shelley ini. Misalnya, tokoh Elizabeth Lavenza yang penyabar dan penuh perhatian, Henry Clerval yang hangat, Frankenstein yang serius dan keras kepala, serta karakter makhluk ciptaannya yang sedemikian jahat dan pendendam.

Tetapi benarkah ia makhluk yang jahat? Bertentangan dengan penilaian sementara orang, makhluk ciptaan Frankenstein ini justru makhluk yang lembut dan selalu ingin berteman. Makhluk ini ditolak lingkungannya karena bentuk tubuhnya yang tidak proporsional. Ia terusir karena manusia tidak pernah menerima dan mencintainya. Ia adalah potret "manusia" yang tercabik-cabik, yang merasa hanya orang buta totallah yang dapat menerima keberadaannya.

Novel Frankenstein ini mencapai sukses luar biasa, sehingga boleh dikata novelis wanita Inggris yang lahir 30 Agustus 1797 ini menambah kata baru (Frankenstein) untuk kamus dalam bahasa mana pun, sama seperti novelis Bram Stoker dengan Dracula-nya.

Novel-novel karya Mary Shelley lainnya adalah Mathilda (1822), Valperga (1823), The Last Man (1826), dan Lodore (1835). Tetapi Frankenstein-lah yang melambungkan namanya. Sukses Frankenstein berlanjut menjadi film-film dalam berbagai versi dan kisah lanjutan yang terkesan "dihubung-hubungkan", yang tentu tidak diinginkan Shelley. Bila ada yang pantas dikecewakan Shelley di luar mega sukses novelnya, itu adalah adanya dugaan orang yang menganggap karyanya adalah novel horor, padahal ia seratus persen fiksi ilmiah. 

***

Ilustrasi via i0.wp.com

478 Views
Write your answer View all answers to this question