selasar-loader

Mengapa masih ada kelaparan di berbagai belahan dunia?

LINE it!
Answered Jul 20, 2017

Ma Isa Lombu
Pemerhati Indonesia

lIOnV4KK4Jez84TurFTFO-SI_s76z9pb.jpg

Kenapa lapar? Karena mereka miskin, tidak mampu membeli makanan.

Pertanyaannya kemudian, mengapa masih banyak orang miskin di dunia ini?

Sebelum menjawab mengapa masih banyak kemiskinan di dunia ini, penting bagi kita untuk mempertegas definisi miskin itu sendiri. Orang miskin adalah profil seseorang yang dalam jangka waktu tertentu, ia memiliki pendapatan di bawah garis batas penentu kemiskinan. Yang dalam keadaan itulah, maka orang tersebut tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan dan papan, juga beberapa kebutuhan dasar lain seperti kesehatan. 

Menurut world bank, seseorang dapat dikatakan berada dalam garis kemiskinan apabila seseorang hidup dengan pendapatan di bawah USD $1/hari (kriteria absolut yang setara dengan Rp13.300,00) dan $2 per hari (kriteria moderat yang setara dengan Rp26.600,00). Bicara world bank, lain bicara Badan Pusat Statistik (BPS). Menurut BPS, terapat 14 kriteria miskin, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2 per orang.
2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.
3. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester.
4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain.
5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik.
6. Sumber air minum berasal dari sumur/ mata air tidak terlindung/ sungai/ air hujan.
7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah.
8. Hanya mengonsumsi daging/susu/ayam dalam satu kali seminggu.
9. Hanya membeli satu setel pakaian baru dalam setahun.
10. Hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari.
11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/ poliklinik.
12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah petani dengan luas lahan 500m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan di bawah Rp600.000,00 per bulan yang setara dengan Rp20.000,00 per hari.
13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga adalah tidak sekolah/tidak tamat SD/tamat SD.
14. Tidak memiliki tabungan/barang yang mudah dijual dengan minimal Rp500.000,00 seperti sepeda motor kredit/ nonkredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya.

Agar dapat dibayangkan, berdasarkan data dari world bank, pada tahun 2013, sebanyak 10,7 persen dari total penduduk bumi (atau setara dengan 767 juta penduduk) hidup dengan penghasilan di bawah US$1.90. Definisi di bawah ini intervalnya dari US$0 hingga US$1.90. 

Di sinilah kelaparan muncul.

Sebenarnya, banyak teori yang menjelaskan tentang kemiskinan. Namun, pada umumnya, kemiskinan terjadi karena kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar karena sebab-sebab tertentu, misal perang atau bencana alam dan kemiskinan yang terjadi karena buruknya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan sehingga opportunity material (uang) itu sulit datang padanya. 

Banyak pula teori yang menjelaskan tentang bagaimana cara mengentaskan kemiskinan. Namun, dalam jawaban ini saya mau fokus tentang distribution of wealth

Bicara distribution of wealth, kita pasti bicara zakat.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa instrumen zakat adalah salah satu instrumen fiskal yang efektif untuk memperkecil disparitas (kesenjangan) ekonomi yang ada di sebuah negara. Seperti kita ketahui bahwa orang-orang yang berhak menerima zakat (asnaf) itu terbatas hanya kepada delapan golongan. Di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Fakir (orang yang tidak memiliki harta)

2. Miskin (orang yang penghasilannya tidak mencukupi)

3. Riqab (hamba sahaya atau budak)

4. Gharim (orang yang memiliki banyak hutang)

5. Mualaf (orang yang baru masuk Islam)

6. Fisabilillah (pejuang di jalan Allah)

7. Ibnu Sabil (musyafir dan para pelajar perantauan)

8. Amil zakat (panitia penerima dan pengelola dana zakat)

Coba kita fokuskan kepada urutan 1 dan 2 (fakir dan miskin). Di dua kategori inilah orang lapar banyak terdapat di sana. 

Coba kita bayangkan apabila Bill Gates bayar zakat, ketika gajinya yang sebesar Rp1.184 triliun itu dipotong 2,5%-nya untuk zakat, maka akan ada uang zakat sebesar Rp29,6 triliun yang tersedia. Jumlah sebanyak itu kurang lebih kalau dikonversikan menjadi sepiring nasi bungkus seharga Rp10.000 maka akan menghasilkan 2.900.000.000 (2,9 miliar) nasi bungkus yang dapat disebarluaskan ke daerah-daerah yang kelaparan. 

Tentu kita percaya bahwa dunia ini juga tidak kekurangan orang kaya. Jika zakat dapat dijadikan sarana sebagai alat distiribusi kesejahteraan, maka saya yakin kelaparan akan berkurang di bumi kita ini. Belum lagi jika kita kombinasikan zakat yang hanya 2,5% itu dengan instrumen "fiskal Islam" yang lain seperti infak dan shadaqah, termasuk peruntukan zakat, infak, dan shadaqah produktif, saya yakin skema untuk "membeli kapal dan pancing" tidak hanya sekadar memberi "ikan", akan membuat penduduk bumi lebih sejahtera.

Bebas dari rasa lapar!

Ilustrasi via blogspot.com

616 Views
Arbi Arif

jadi semua karena ego yaa, makasih jawabannya bang, i see  Jul 20, 2017

Ma Isa Lombu

You're welcome bro  Jul 21, 2017

Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia