selasar-loader

Apa pengalaman unikmu saat menjalani ibadah puasa?

LINE it!
Answered Jul 19, 2017

Saverinus Suhardin
Ners, Pembaca, Penulis, Pengajar

oRbj2mE6ou2ZsikiztoaW4_L17ctu8AE.jpg

Saya beragama Kristen. Ibadah puasa dalam agama saya, tidak begitu diwajibkan. Setidaknya itu yang saya rasakan. Meskipun ada masa puasa (sebelum hari raya Paskah), kegiatan berpuasanya tidak seragam. Ada yang menjalankan, ada pula yang tidak. Sebagian beropini, puasa bukan hanya sekadar tidak makan dan minum, ada begitu banyak bentuk puasa yang lain.

Begitu kuliah di Surabaya, saya begitu merasakan nuansa berpuasa dari saudara/i umat muslim. Semua terlihat kompak. Kecuali beberapa orang yang berhalangan khusus, selain itu, sebagian besar orang berpuasa. Terlihat sekali perubahannya. Warung-warung banyak yang tutup saat siang hari; sore menjelang berbuka banyak yang menjual takjil; warung-warung ramai dikunjungi orang yang mencari hidangan berbuka puasa; dan setiap subuh orang-orang sibuk menyiapkan hidangan sahur.

Meski tidak ikut berpuasa, saya senang dengan suasana selama bulan puasa umat muslim. Saya sering berpartisipasi dalam kegiatan buka puasa yang diadakan teman-teman kampus. Mereka tidak membedakan, meski tidak ikut berpuasa, mereka tetap mengundang saya ikut berbuka puasa. Sebagai anak rantau yang tinggal di kos, tentu saja saya senang karena disiapkan hidangan gratis.

Pernah suatu ketika, saat masa puasa ramadan, saya praktik di salah satu rumah sakit sebagai mahasiswa keperawatan. Waktu itu bertugas atau dinas sore. Saya bertugas dengan 2 orang teman sekampus yang beragama muslim. Keduanya tentu saja ikut berpuasa.

Tugas sebagai mahasiswa praktik berjalan baik, tidak ada kejadian yang begitu istimewa. Hingga sore menjelang maghrib, seorang perawat senior mengingatkan kami, “Dek, nanti kalian bisa ambil hidangan buka puasa di musala yang berlokasi dalam kompleks RS, ini kuponnya”.

Kami, mahasiswa praktik mendapat kupon makan satu-satu. Saya senang sekali, tapi disertai rasa khawatir. Saya takut, petugas yang mengecek kupon di musala nanti akan cek kebenaran ikut berpuasa atau tidak; beragama muslim atau tidak. Saya berpikir, kupon makan itu hanya untuk muslim yang berpuasa.

Saya segera mengajak teman yang beragama muslim ke tempat yang agak sepi. Saya bertanya, boleh tidak saya ikut mengantri makan di musala. Saya menceritakan rasa khawatir yang saya alami.

Beruntung, teman saya itu memberi saya penguatan. “Tidak apa-apa”, katanya meyakinkan, “Nanti kamu ikuti saya”.

Saya merasa agak lega setelahnya. Begitu azan terdengar, saya buru-buru mencari teman tadi. Kami jalan bersama menuju musala. Saya tetap merasa was-was. Saya minta teman tadi berdiri paling depan saat tiba di depan petugas penukar kupon dengan makanan. Saya takut ditanyai hal-hal berkaitan dengan prosedur buka puasa dalam ajaran muslim, tentu saja tidak bisa saya jawab. Saya mengekor teman saja, dialah yang paling tahu.

Hmmmm..., ternyata tidak ditanya apa-apa oleh petugas. Kami langsung mendapat makan setelah menunjukan kupon. Tidak ada pemeriksaan tanda atau ciri-ciri khusus yang membedakan yang puasa dan tidak puasa. 

Benar kalau ada yang bilang, saat kita berbuat baik atau pun berbuat jahat, orang tidak menanyakan agama kita apa ? Begitu pun saat mengantri menu buka puasa, petugas tidak menayakan kita puasa atau tidak, muslim atau nonmuslim ?

Saya pun dapat menikmati hidangan buka puasa gratis saat itu. Puji Tuhan...

foto via dokumen pribadi

438 Views
Write your answer View all answers to this question