selasar-loader

Bagaimana cara membuat masyarakat sadar politik?

LINE it!
Answered Jul 19, 2017

Ma Isa Lombu
Pemerhati Indonesia

9rXD1IxaUqD-xDeT-UfW6JS-JU8YYytL.jpg

Ciptakan sense of urgency

Tentu, berpolitik tidak dapat dikerdilkan maknanya hanya pada kegiatan politik praktis semata, seperti terlibat dalam gerakan partai politik tertentu. Politik yang saya pahami memiliki makna yang tapi lebih luas dari itu. Menurut beberapa ahli, definisi populer dari terminologi politik adalah bagaimana cara memengaruhi pihak lain terkait untuk sebuah tujuan tertentu.

Lebih detail lagi, menurut Miriam Budiarjo, seorang Professor politik terkemuka di Indonesia, politik didefinisikan sebagai macam-macam kegiatan yang ada dalam suatu sistem politik (negara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuan sebuah sistem politik tertentu dan bagaimana cara melaksanakan tujuan-tujuan tersebut.

Jadi mudahnya, ketika kita bicara "politik", kita tidak dapat lepas dari 3 keywords penting: negara, tujuan politik, dan aktivitas politik.

Lalu, bagaimana cara menumbuhkan kesadaran dalam berpolitik? Sebuah internal trigger yang hadir dari warga negara atas hal tertentu yang akan menimbulkan konsekuensi logis tertentu, yakni partisipasi politik, baik aktif ataupun pasif.

Pada dasarnya, manusia butuh alasan untuk bergerak, baik pergerakan sosial kemasyarakatan, sampai gerakan politik. Bahkan berbuat baik pun butuh "alasan". Wajar dan sangat manusiawi. Beginilah nature of humankind. "People respond to incentives (and disincentives)". Sebuah kalimat powerful yang sering saya kutip.

Jadi yang harus dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dalam berpolitik adalah dengan berikan insentif atau hadirkan disinsentif. Semudah itu. Intervensi atas insensitif dan disinsentif tersebutlah yang pada akhirnya akan menstimulasi "sense of urgency".

Insentif politik pernah sukses dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk membuat jutaan rakyat Indonesia terlibat dalam gerakan politik yang serius. Meski pada akhirnya PKI dihancurkan pada tahun 1965 oleh pemerintah orde baru dan pada akhirnya dinyatakan sebagai partai terlarang pada tahun berikutnya, tidak dapat dipungkiri bahwa PKI adalah partai komunis nonpenguasa terbesar di dunia setelah Rusia dan Tiongkok

Dengan janji akan memberikan kemerdekaan dan kesejahteraan untuk rakyat Indonesia, PKI berhasil menarik hati dan simpati jutaan rakyat Indonesia untuk bergabung dalam aktivitas politiknya, bahkan sampai melakukan kegiatan revolusioner dengan menculik dan membunuh para jenderal Angkatan Darat RI.

Insentif tidak harus material. Insentif tidak harus jangka pendek. Janji dan visi PKI untuk menjadikan Indonesia merdeka dan sejahtera jelas menjadi bukti bahwa hal tersebut merupakan skema insentif yang efektif bagi rakyat Indonesia kala itu. Menariknya, PKI dengan segala strategi dan model komunikasi politik yang dilakukan dapat menciptakan sense of urgency tersebut. Hasilnya terbukti efektif, pada Pemilu 1955 PKI menempati tempat ke empat dengan 16% dari keseluruhan suara. 

Sebaliknya, ketika bicara disinsentif politik, aksi mahasiswa pada tahun 1998 untuk menumbangkan rezim Orde Baru yang korup jelas berhasil secara efektif untuk membangkitkan sense of urgency masyarakat sipil untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik yang lebih progresif. 

Rezim Orde baru yang koruptif dan otoriter jelas merupakan disinsentif bagi rakyat. Kesenjangan ekonomi-politik, represi terhadap kebebasan berpendapat dan juga kesewenang-wenangan oknum aparat militer menjadi disinsentif tambahan yang terakumulasi dan pecah dalam aksi masa besar-besaran untuk menggulingkan pemerintahan. Ketika itu, masyarakat merasakan sense of urgency yang sama bahwa partisipasi politik bukan pilihan.

Menciptakan sense of urgency dalam politik jelas memerlukan: 1) skill komunikasi politik dan juga 2) momen khusus tertentu. 

Dua hal itulah yang bisa kita usahakan!

gambar via imgur.com

505 Views
Write your answer View all answers to this question
Sponsored

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia