selasar-loader

Apa arti kota Jakarta bagi Anda?

LINE it!
Answered Jul 18, 2017

Ma Isa Lombu
Selasares Garis Keras

_FAMtuFWfXG97HBU1TCiYoFpFDE3yHvl.jpg

Jakarta adalah tumpuan. Jakarta adalah harapan. Jakarta adalah kesempatan.

Mungkin itulah arti dan harapan banyak orang kepada ibukota negara kita tercinta ini. Rasanya harapannya sudah terlalu overload. Terlalu berat. Berisiko menimbulkan banyak kekecewaan.

Dengan umur kota yang hampir 500 tahun (didirikan pada tanggal 22 Juni 1527), Jakarta memang sejak zaman dahulu menjadi rebutan banyak pihak. Dikuasai oleh Portugis, Belanda sampai Jepang selama ratusan tahun membuat Jakarta menjadi kota internasional yang pamornya sudah terlihat dari kejauhan. 

Tidak heran, karena posisi strategis dan pesonanya yang sangat luar biasa, Jakarta pernah menjadi pelabuhan lada pada abad ke-12 yang berbagai bangsa seperti Tiongkok, Jepang, India Selatan, dan Timur Tengah sudah mulai merapat ke wilayah ini untuk meniagakan barang-barang khas negara mereka seperti kain, wangi-wangian, kuda, anggur, porselen, kopi, sutra, kain, ataupun wangi-wangian.

Semenjak dahulu, beban Jakarta sebagai sebuah kota memang sudah terlalu kelebihan beban. Karena itulah, berbagai macam penyakit sosial dari mulai kemacetan akut, kemiskinan, kriminalitas, perilaku warga yang tidak mencerminkan kualitas warga kota yang beradab (buang sampah sembarangan, tidak disiplin, melanggar lalu lintas, dll) sampai kepada ketidakteraturan tata letak dan ruang menghiasi Jakarta sebagai atribut kota yang khas dari bangsa Indonesia yang kita cintai ini. Menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik dalam "Jakarta Dalam Angka" yang dirilis tahun 2015, diketahui bahwa tingkat kepadatan kota ini sudah mencapai 15.052,84 penduduk/km2. Sangat padat.

Tapi bagaimana lagi, Jakarta memang kota impian. Kota harapan.

Bayangkan, setiap lebaran datang, berbondong-bondong warga desa melakukan urbanisasi dari desa mereka masing-masing untuk mencari peruntungan. Untuk menjadi "asisten rumah tangga"-kah, supir kah, bahkan pemulung dan peminta-minta. Tidak hanya itu, ribuan sarjana lulusan perguruan tinggi ataupun sekolah menengah kejuruan yang ingin mencari sesuap nasi juga menggantungkan nasibnya di kota multietnis ini.

Kembali, sepertinya Jakarta sudah terlalu kelebihan beban.

Saya hanya membayangkan nasib Jakarta sebagai kota besar modern dapat menanggung beban tugasnya secara lebih proporsional. Mungkin ilustrasi ini kurang begitu tepat karena Indonesia dan Jakarta memiliki sejarah, konstelasi politik, kondisi sosial budaya yang unik dan tidak dapat dibandingkan apple to apple dengan negara atau kota lain. Meskipun demikian, saya pikir hal ini adalah contoh yang cukup baik untuk dapat kita jadikan inspirasi.

Di Amerika Serikat, sepertinya setiap kota memiliki identitas dan perannya masing-masing. Washington DC lebih berperan sebagai kota pemerintahan, New York berperan sebagai pusat bisnis, California berperan sebagai icon industri digital dan Seattle berperan sebagai kota industri berat yang tidak dapat diremehkan. Begitu juga di Australia, pemerintah Australia berani memisahkan ibukota negara yang berada di Canberra, pusat pendidikan di Melbourne, dan Sidney sebagai kota bisnisnya. Jangan jauh-jauh. Pemerintah Malaysia pun sudah berani mengambil sebuah keputusan strategis dengan memindahkan pusat pemerintahannya dari Kuala Lumpur ke Putrajaya untuk mewujudkan fungsi kota yang lebih proporsional.

Saya berharap pemerintah Indonesia juga lebih memperhatikan kondisi kota Jakarta (yang katanya) kita (cintai) ini. Kota ini jelas sudah kelebihan beban. Kota-kota di negara tetangga sudah mengalami pemulihan fungsi dengan menjadikannya sebuah wilayah yang memiliki kekhususan di bidang tertentu. Jakarta sepertinya memang terlalu kita cintai.

Berpredikat sebagai kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara atau urutan kedua di dunia, sepertinya dalam konteks ini menjadi tidak begitu membanggakan.

Ayo selamatkan Jakarta kita!

foto via twitter.com

275 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia