selasar-loader

Apa pengalaman Anda yang tidak terlupakan ketika di SMA?

LINE it!
Answered Jul 17, 2017

Ma Isa Lombu
Penikmat Budaya

BwZrXJVVGeYE-L9FZQN4vB0xUJcQ7Xj_.jpg

Memberontak kepada kakak OSIS.

Saya sekolah di SMU 81, sebuah sekolah yang terindikasi sebagai sekolah unggulan di bilangan Jakarta Timur. 

Perlu diketahui bahwa SMU 81 dulunya bernama SMA Laboratory School (Labs School) yang terletak di Rawamangun. Karena satu dan lain hal, SD hingga SMA Labs school "dinaturalisasi" menjadi sekolah negeri dan terpencarlah kami menjadi sekolah-sekolah negeri di seluruh penjuru Jakarta. Nah, SMA 81 kebetulan ditempatkan di sebuah kompleks militer di Kalimalang, Jakarta Timur.

Pada saat saya sekolah dahulu, masih banyak budaya Labs School yang diterapkan di sekolah kami, salah satunya adalah budaya kakak OSIS yang belagu. Dengan jas OSIS yang (katanya) mereka banggakan, mereka melenggang ke sana ke mari, terutama ketika MOS (Masa Orientasi Siswa). Sepertinya mereka sedang belajar menjadi diktator kepada adik kelasnya yang memang masih bercelana biru, marjinal.

Uniknya, layaknya penegak hukum negeri ini di masa lalu (semoga), perilaku menjaga "marwah sekolah" hanya berani mereka tampakkan ke adik kelas yang masih unyu-unyu. Tebang pilih. Kepada para seniornya yang duduk kelas 3, hilang semua gaya-gayaan mereka. Tajam ke bawah, tumpul ke atas. Khas pejabat negeri kita.

"Otoritarianisme berat sebelah" ini saya pikir harus dihentikan, agar mereka tau bahwa kebenaran bukan milik mereka!

Yang saya pikirkan saat itu hanya menciptakan shock untuk mereka dengan cara membuktikan bahwa pengawasan mereka terhadap anak baru (kelas 1) masih banyak celahnya. Saya juga ingin membuktikan bahwa anak kelas 1 tidak takut melawan penjajahan yang dilakukan manusia atas manusia. Sesederhana itu.

Harapannya, dengan pemberontakan ini, akan ada gerakan-gerakan lain dari akar rumput anak-anak kelas 1 yang akan menciptakan gelombang perlawanan yang lebih besar.

Yang waktu itu saya (dan beberapa kawan) lakukan adalah dengan mengganti pamflet pengumuman yang secara official dikeluarkan oleh kakak OSIS dengan sebuah pamflet baru yang mengolok-olok mereka. Aksi itu kami lakukan ketika malam hari ataupun jauh di pagi hari, setelah atau sebelum semua orang datang/berada di sekolah.

Pamflet serius keluaran OSIS kami ganti redaksinya dengan kalimat-kalimat lucu/mengolok-olok ataupun kami keluarkan pamflet tandingan untuk menghancurkan kredibilitas dan legitimasi dari si kakak OSIS yang belagu.

Gerakan kami adalah aksi politik, bukan aksi lucu-lucuan!

Untuk itulah, meski kami bertindak di bawah tanah, pesan politik kami sangatlah jelas. Kami ingin menumbangkan kediktatoran semu kakak OSIS yang belagu.

Dalam bergerak, kami pun tidak takut memperkenalkan diri sebagai "root radicals", yang kalau diterjemahkan dalam kalimat yang lebih bebas, berarti "anak baru haus kasih sayang". Dengan pesan dan aktor politik yang jelas, kami berharap aksi yang kami lakukan dapat mengagitasi lebih banyak orang untuk turut bergerak. Tentunya dalam gelombang yang lebih besar.

Aksi tersebut sontak membuat sekolah gempar. Layaknya Julian Assange yang mengguncang dunia lewat Wikileaks, komplotan kami dibenci, dicari, juga dirindukan.

Anak-anak kelas 3 tidak banyak bergerak mendukung gerakan bawah tanah yang kami lakukan, tapi kami yakin secara moral mereka men-support pemberontakan yang tidak biasa ini. Anak-anak kelas dua terbagi menjadi dua kubu, ada yang pro dan ada yang kontra. Dan terakhir, anak-anak kelas 1, mostly mendukung gerakan, meski ada beberapa gelintir siswa yang takut dan masih malu-malu.

Hampir sekitar 1 bulan lamanya kredibilitas kakak OSIS kami hancurkan. Kami lumatkan kedigdayaan semu mereka menjadi sebesar remah-remah rempeyek yang jatuh dijalan, diinjak orang. Kami buka semua perilaku hipokrit mereka lewat pamflet-pamflet satir yang membuat geli pembaca, sekaligus menyatat hati. Legitimasi mereka sebagai perwakilan siswa luluh lantak selama sebulan itu, hingga...

...aksi kami ketahuan!

Ada penyusup dalam gerakan. Meskipun sebagian besar kakak OSIS belagu, jujur saya katakan, ada sedikit dari mereka yang masih punya otak.

Mereka melakukan gerakan "kontrarevolusi" dengan mengirimkan spion lewat teman-teman kami yang (masih) lugu. Sehingga mereka akhirnya mendapatkan informasi bahwa gerakan perlawanan bawah tanah ini dilakukan oleh sejumlah siswa baru dari kelas tertentu.

Tidak hanya itu, mereka akhirnya memata-matai pergerakan kami dan akhirnya berhasil menangkap salah satu dari comrade gerakan ini. Kawan kami pun diinterogasi dan akhirnya (karena pengalaman perjuangan bawah tanah kami yang masih nol besar), terungkaplah semua aktor politik aksi politik delegitimasi ini.

Kami semua diarak menuju ruang OSIS, layaknya para jenderal revolusi yang di seret gerombolan PKI ke Lubang Buaya. Saya masih ingat, ketika itu waktu pulang sekolah. Sekitar pukul 16.30 sore.

Kami, layaknya tahanan, dimasukan ke ruang OSIS dengan kaca yang ditutup rapat oleh tirai. Meski interogasi mereka lakukan dengan sepenuh jiwa dan raga, tapi hati kami bahagia karena gerakan awal sudah kami lakukan.

Mereka mengancam ini dan itu. Memojokkan kami dengan kekuatan struktural yang mereka miliki. Dari mulai bentakan, hingga ludah yang muncrat mengenai muka, sudah menjadi atribut wajib kekerasan verbal sore itu.

Ajaibnya, kami tidak takut!

Kami lawan argumen dengan argumen. Kami lawan cacian dengan teriakan lantang yang membuat nyali mereka ciut. Kami mengetahui kekerasan fisik tidak mungkin mereka lakukan. Untuk itulah segala cara kami lakukan untuk membuat mereka kalah. Kami juga ungkapkan ancaman-ancaman kami yang tentunya hanya bluffing semata. Menariknya mereka percaya.

Jam berganti jam. Akhirnya mereka melunak.

Kami, sang pemberontak, hanya dihukum "black list" dari seluruh kegiatan OSIS dan tidak dapat berpartisipasi menjadi/mendaftar sebagai anggota OSIS di periode berikutnya.

Fair enough.

Cukup mengesankan. :)

180 Views
Zulfian Prasetyo

Die hard to da max!  Jul 18, 2017

Erin Nuzulia Istiqomah

ahahhaaha bang kew ini udah "rebel" dari dulu yak wkwkwk  Jul 18, 2017

Ma Isa Lombu

wkwkwk  Jul 18, 2017

Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia