selasar-loader

Bagaimana tips agar mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri?

LINE it!
Answered Jul 14, 2017

Abdullah Azzam
Magister Manajemen UNS 47/ Alumni Baktinusa Ank. 6

Hasil gambar untuk beasiswa ke luar negeri

Pertama, ane bukan kapasitasnya menjawab ini sih, karena ane masih kuliah di Indonesia dan belum mendapat kesempatan untuk merasakan nuansa akademis luar negeri. Kedua, sebenarnya terkait beasiswa luar negeri tidak berlaku hukum kepastian. Maskdunya, cukup banyak faktor yang bisa mempengaruhi, tapi akan ane ceritakan pengalaman menarik ane, terutama terkait "salah satu syarat" bisa mencicipi belajar di luar negeri.

Ane pernah ikut dalam kompetisi mahasiswa berprestasi di fakultas ane. Ending-nya, alhamdulillah ane terpilih mewakili fakultas ane ke level universitas. Di sini, ada dua kejadian menarik yang mungkin bisa jadi pembelajaran

Di level fakultas, ane menghadapi jawara-jawara dari masing-masing jurusan S1. IPK, jelas tidak dihitung karena kami semua alhamdulillah cum laude (syarat mawapres IPK 3,5 plus). Prestasi terdiri dari prestasi akademik dan nonakademik, prestasi akademik ane bisa jadi rada miris. Seumur hidup ane di kampus, berbagai makalah yang ane tulis belum nyampe ke mana-mana, sedangkan lawan ane ada yang pernah juara sampai nasional. Sahabat ane yang juga ikut, paper-nya dia pernah disampaikan dalam sebuah konferensi dan sudah di-publish dalam bentuk jurnal. Teman ane yang dari Akuntansi berkali-kali sampai ke luar pulau, ikut lomba macam-macam dan juara. Yang membedakan kami di nonakademik, saat itu posisi ane sudah berkali-kali ngerasain iklim organisasi kelas nasional. Dan di beberapa media juga ada sedikit tulisan ane, itu aja, selebihnya mah kalau diukur pakai skala matematis itu kayak batu lawan roket haha.

Tibalah masa penjurian, kami diminta presentasi pake bahasa Inggris. Sejak SMP, entah kenapa ane sudah dituntut dan belajar membiasakan diri dengan bahasa asing (mungkin karena ane di pondok ya) dan berdampak ke preferensi budaya dan hiburan ane. Sejak SMP, ane sudah agak ngga suka sama lagu lokal (bukan apa-apa, zaman itu lagunya sudah ngga seksi lagi), ditambah lagi kalau memang jelek dan dosanya sama (kata beberapa ustaz begini haha), maka ane memilih lagu asing sekaligus buat belajar bahasa asing. Begitu juga dengan film, di era film horor Indonesia merajalela, yang tentu agak gimana (sebelum era "Laskar Pelangi" loh ya) kalau mau nonton, akhirnya ane nontonin "Lord of The Ring" sampai bosan. Begitu juga "Harry Potter" dan lain-lain. Akhirnya, saat itu pertama kalinya ane latihan presentation pakai bahasa asing dengan teman dan maju menuju kancah perlombaan.

Ketika menjelaskan makalah kami dengan bahasa Inggris, cukup lucu aja ternyata ane dipuji sama jurinya, "You can speak english fluently". Wah, luar biasa banget, semacam kayak amazing gitu dipuji macam itu. Tapi, jujur ane sama sekali ngga ada bayangan apa-apa soal hasil. Ane ikut juga bismillah aja, semoga ada manfaatnya.

Selepas penjurian ane melupakan urusan itu dan coba fokus mengejar beasiswa aktifis Nusantara, Dompet Dhuafa. Karena pengumuman hasilnya memang cukup lama, akhirnya, beberapa hari kemudian ane dikirimi gambar spanduk sama teman ane. Di sana ada nama ane dan ucapan selamat. Wew, alhamdulillah begitu, karena hasilnya benar-benar di luar dugaan. In that time, i think, i'm not deserve for this, tapi show must go on.

Akhirnya, ane maju ke universitas dan boooooooooooommmmmmmmmmmmmm..........................................

mereka semua english-nya compeletly fluent. Bahkan, dua pemenang utama itu sudah biasa banget jalan-jalan ke luar negeri. Bahasa Inggrisnya mah ampun deh, saikou desu!!

Yang satu, anak FISIP. Sejak awal ngobrol, dia sudah kayak terbiasa banget ngomong pakai bahasa Inggris. Kelihatan, mungkin dia memakai bahasa Inggris di kehidupan sehari-hari. Yang satu, anak FK, mungkin dia ga kepleset ngomong-ngomong pakai bahasa Inggris, tapi dengan bukti foto dia pernah main suling di depan orang-orang asing, mungkin itu orang asing adalah temannya. :D

Bahasa..

obstacle ini sering menjadi kendala buat calon foreign scholarship hunter. Bayangkan, IELTS 6,5 sekali ujian sudah ngabisisn 3500K. Itu pun kalau sekali tembak berhasil. Kalau mau make mode machine gun, mungkin kamu kudu punya 3500Kx30 rupiah (standar magazin untuk assault riffle). Ditambah memang, bahkan di banyak kampus bahasa akademiknya masih bahasa ibu atau bahasa tradisional (seriusan, padahal kita bikin skripsi pakai referensi lokal sering kali dimakan sama penguji), dan lebih lucu lagi, bukan hanya foreign scholarship aja, universitas lokal yang ngadain LPDP, bahkan kalau mau S2 sekalipun minimal TOEFL 550 w.o.w.

Maka, siapa pun dia, baik anak SMP, SMA, sudah kuliah di strata apa pun, bahasa asing ini menjadi hal yang harus diselesaikan dengan tenang dan gemilang. Kalau mengincar Jepang atau Jerman, siap-siap akan ada drill khusus untuk mempelejari bahasa mereka (tapi, kenapa ngga ada drill ginian untuk PTN di Indonesia, khusus untuk bahasa Indonesia, xixixix). Biasakan gunakan bahasa asing dengan tidak menafikan keluhuran budaya lokal. Ane ngga tahu, tapi novel Negeri 5 Menara menjadi contoh bahwa budaya kita memang unggul, cuman perlu diinternasionalkan sedikit dengan cara memakai bahasa asing.

Karena ane sendiri tidak menutup mata, bahwa dengan pertolongan Allah swt dan sedikit kemampuan bahasa hitungan matematis, mustahil ane di fakultas bisa dimungkinkan. Dan dengan kuasa Allah swt juga ane ditunjukkan tembok lain saat masuk ke level universitas.

Tembok itu adalah bahasa dan pengalaman menggunakan bahasa.

Wallahu 'alam :)

 

Ilustrasi via blogspot.com

416 Views
Write your answer View all answers to this question