selasar-loader

Siapa Drs. Musholli, pendiri Nurul Fikri?

LINE it!
Answered Jul 11, 2017

Muhammad Fathan
Manager Regional 1 Jakarta

3B4V1fg0dtc6cSFdGjdv1kJyQX8lSSvK.jpg

Saya lebih senang menyebutnya sebagai orang tua. Walaupun pada saat yang bersamaan, dia adalah seorang ustaz, seorang pendidik, seorang pengusaha, seorang birokrat dengan idealisme tinggi, bahkan seorang aktivis. Tapi bagi saya, dan banyak orang lainnya, memang rasanya paling tepat menyebutnya sebagai orang tua, sebagai bapak kami. Memang singkat, pertama kali saya mendengar namanya sekitar 6 tahun yang lalu. Saya mulai mengenal siapa beliau dan apa yang beliau lakukan semenjak tahun 2012, ketika saya terlibat sebagai peserta PPSDMS (Program Pembinaan Sumber Daya Manusia Strategis) atau yang sekarang bernama Rumah Kepemimpinan, di mana saat itu beliau adalah direktur sekaligus ideolog kami. 

Setiap bulan kami mendapatkan asupan dan berdiskusi dengan beliau dalam program Kajian Islam Kontemporer. Saat pertama kali mengikuti kajian dari beliau, ada rasa yang berbeda. Ini bukan kajian biasa, karena ada banyak benturan pemikiran Islam yang selalu saya dapatkan. Beliau punya pemikiran khas. Secara ideologis, pemikiran beliau banyak dipengaruhi oleh ulama besar dunia (yang baru-baru ini difitnah dengan cap teroris), Yusuf Qardhawi. Namun, pemikiran khas beliau lebih saya dapatkan dalam gagasan beliau tentang bagaimana konteks pemimpin muslim di tengah dinamika dunia saat ini. Sangat kekinian dan sangat "kedisinian". Maka, bingunglah kalian, kadang waktu kalian akan dapati sosoknya kok rasanya sangat radikal pemikirannya. Tapi, di lain waktu, kok seperti liberal ya jadinya. Beliau sangat seimbang dan proporsional dalam menempatkan pemikirannya, menempatkan keberpihakannya. It's hard to express it in some words, but there he is.

Dari interaksi dan diskusi bersama beliau selama kurang lebih 5 tahun terakhir ini, saya belajar untuk banyak mencari titik temu di tengah perbedaan yang ada di tubuh umat. Untuk tidak meninggikan kepala menganggap kebenaran milik kita saja, tapi mencoba rendah hati untuk melihat kebenaran atau kebaikan yang terkandung dalam kata atau kerja mereka. Untuk berhenti dari taklid buta, yang taat hanya lewat "katanya, katanya" saja, tapi secara objektif melihat mana yang benar dan mana yang tidak. Untuk tidak menghabiskan energi menghajar setiap orang yang berbeda dengan kita namun berdiskusi dan berdialog dengan banyak orang, mencari titik temu, berpikiran terbuka. Untuk tidak terlalu ekstem kiri, atau ekstrem kanan, tapi moderat yang ada di pertengahan.

Apakah aku sudah cerita bahwa beliau adalah sosok yang humoris? Ya, tidak sulit untuk mencerna apa yang disampaikan beliau karena selalu ada selipan humor untuk memecah beku.

Beliau juga seorang yang tak segan untuk berkorban. Demi Indonesia, demi umat.

Ilustrasi via dokumentasi pribadi

88 Views
Write your answer View all answers to this question

Author Overview


Muhammad Fathan
Manager Rumah Kepemimpinan Regional 1 Jakarta

More Answers from Muhammad Fathan