selasar-loader

Apa maksud perkataan Keynes atas statementnya yang fenomenal: In the long run we're all dead?

LINE it!
Answered Jul 01, 2017

Ma Isa Lombu
Pendiri dan Chief Business Development Officer Selasar

mRbSfMEFaeeOlIcQBnjAumQOaguD2FFq.jpg

Pertanyaan ini menjadi menarik untuk dijawab, mengingat adanya latar belakang sejarah dan juga pertarungan ide/mazhab ekonomi yang menyertainya.

Awalnya, semua ini bermula ketika The Great Depression terjadi pada tahun 1930an.The Great Depression atau yang dikenal dengan peristiwa depresi besar ekonomi adalah sebuah musibah ekonomi besar dunia yang terjadi antara tahun 1929-1941. 

Awalnya, musibah ekonomi ini terjadi di Amerika dengan ditandai oleh hancurnya harga saham yang terus menggelinding ke arah stock market crash. Peristiwa in dikenal dengan sebutan black Tuesday. 

Dampak Black Tuesday terus berlanjut hingga ke seluruh dunia. GDP dunia yang anjlok 15% mengakibatkan penyakit ekonomi lain, seperti tingkat harga turun drastis, perdagangan international turun hingga 50%, profit turun, penghasilan turun, pengganguran meningkat dahsyat, dan kelaparan di mana-mana.

Sebagai catatan, pengangguran di US meningkat hingga 25% dan dunia hingga 33%. Hadirnya pengangguran dan kelaparan ini tentu akan berimplikasi terjadinya penyakit sosial tambahan seperti tingginya angka kriminalitas, dll.

K3-xxVV_tFzpURR3UVdX62jWJ85xJmEB.jpg

Kejadian seperti ini sebenarnya sudah dibicarakan hangat oleh para ekonom dunia. Salah satu yang mengawalinya adalah F.A  Hayek, seorang ekonom klasik liberal bermazhab Austria dan Chicago.

Lewat pemikiran free market fundamentalism, ia mengatakan bahwa cara paling efektif dan efisien untuk mengatasi sebuah permasalahan ekonomi adalah membiarkan tangan-tangan yang tidak kelihatan (the invisible hands), bekerja dengan sendirinya untuk memperbaiki kekacauan ekonomi yang ada.

Ia mempercayai bahwa dalam jangka panjang (in the long run), market mechanism akan memperbaiki dirinya sendiri dengan cara yang paling efisien. Intervensi dalam bentuk apapun justru akan menciptakan masalah baru yang tidak diinginkan.

Pemikiran klasik liberal inilah yang akhirnya ditanggapi oleh seorang ekonom Inggris, John Maynard Keynes namanya. Dalam statement-nya yang sangat terkenal, ia mengatakan: 

"The long run is a misleading guide to current affairs. In the long run we are all dead. Economists set themselves too easy, too useless a task if in tempestuous seasons they can only tell us that when the storm is past the ocean is flat again."

Intinya, Keynes ingin mengatakan bahwa permasalahan hari ini harus diselesaikan lewat solusi hari ini. Terminology "in the long run" amatlah tidak tepat untuk menyelesaikan permasalahan kekinian. Jika menunggu market mechanism bekerja untuk memperbaiki dirinya sendiri, maka dalam jangka panjang kita semua pastilah sudah mati (in the long run, we're all dead).

Sampai di sini jawaban saya tentang pertanyaan di atas. Namun untuk menghadirkan jawaban yang lengkap, saya akan teruskan untuk menjelaskan hal-hal menarik yang terjadi setelahnya.

Balik lagi ke The Great Depression.

Lalu apa yang Keynes tawarkan untuk lepas dari bencana ekonomi yang mendunia ini?

Alih-alih merekomendasikan pemerintah untuk berhemat, solusi yang ia tawarkan justru adalah mendorong pemerintah untuk melakukan ekspresi fiskal dengan cara memperbesar Government Expenditure. Dengan meningkatnya Government Expenditure, geliat perekonomian akan terjadi, konsumsi masyarakat (C) meningkat, dan pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi suatu negara (Y). Di titik ini, depresi ekonomi akan selesai.

rokouQXmbBZyh56PEGA1VzbLwHd3Kb_i.png

Sontak pandangan Keynesian ini direspon oleh ekonom Chicago lain, Milton Friedman. Dalam bukunya Monetary Trends in the United States and the United Kingdom: Their relation to income, prices and interest rates (1867-1975) yang ia tulis bersama Anna J. Schwartz, diketahui bahwa yang terjadi pada tahun 1930an adalah deflasi.

Dari data tersebut juga ditemukan fakta bahwa terdapat korelasi antara inflation rate dengan jumlah uang yang beredar (money supply).

IATRRK33_rfV-JLlv5tNViZ1cwFD99mp.jpg

Melengkapi teori tersebut, seorang ekonom Amerika lain yang bernama Irving Fisher membuat sebuah persamaan matematika yang memperlihatkan hubungan antara uang yang beredar dengan naiknya harga barang (inflasi). Teori tersebut kita kenal dengan istilah, equation of exchange.

CxKNizLDg4vpUvk7dfs3VfL2hCk3MoGg.jpg

Dengan asumsi V Dan Q tetap, maka naiknya jumlah uang yang beredar (M) akan mengakibatkan naiknya harga barang (P).

Jadi, berdasarkan data tersebut, solusi yang ditawarkan Friedman untuk mengatasi The Great Depression adalah mengatur uang beredar (money supply) lewat kebijakan moneter. Dalam kasus ini, yang ia rekomendasikan adalah lewat solusi Monetary Expansion Policy dengan menambah uang yang beredar di masyarakat.

Mudahnya, dengan bertambahnya uang yang beredar di masyarakat, harga akan naik. Ketika harga naik, gairah ekonomi akan kembali terjadi. Efek yang terjadi adalah perdagangan kembali normal, profit meningkat, tenaga kerja terserap, dan tentu angka pengangguran menjadi semakin kecil. Kondisi perekonomian kembali seperti semula.

Beberapa metode terkait dengan Monetary Expansion Policy yang dapat dilakukan adalah dengan membeli surat berharga pemerintah (open market policy), menurunkan suku bunga bank sentral (discount rate), menurunkan rasio cadangan wajib perbankan (reserve requirement ratio), ataupun melakukan himbauan kepada dunia perbankan untuk lebih banyak meminjam uang di bank sentral.

Dalam kepemimpinan Franklin Delano Roosevelt, tidak jelas mazhab mana yang paling berperan dalam meyelesaikan problematika depresi ekonomi global tersebut, khususnya di US. Yang jelas, program new deal yang sangat Keynesian dan ekspansi moneter yang sangat Friedman dijalankan pada masa kepemimpinannya.

Begitu juga atas permasalahan ekonomi yang lain, apakah itu resesi atau depresi yang senantiasa menghantui umat manusia. Kita tidak dapat dengan mudah bilang cara Friedman lebih efektif dibandingkan cara ala Keynes, begitu pula sebaiknya. Hal ini dapat terjadi mengingat seluruh permasalahan yang menyangkut umat manusia dengan segala perilaku uniknya membutuhkan analisis multi-variables yang kompleks.

Hingga hari ini, baik pengikut Keynes ataupun Friedman masih gencar "berlomba-lomba dalam kebaikan" untuk membuat hidup manusia lebih indah dan nyaman.

Maka, dalam perjuangannya untuk membuat hidup ras manusia lebih baik dan jauh dari masalah, baik Hayek ataupun Friedman di anugerahi penghargaan Nobel untuk jasa dan pemikirannya ekonominya itu. Saya rasa, jika Keynes masih hidup ketika seremoni ini ada, ia juga akan mendapatkan anugerah tertinggi ilmu pengetahuan tersebut.

Sebagai catatan, meskipun penghargaan Nobel pertama kali diberikan pada tahun 1901 dalam bidang Fisika, Kimia, Kedokteran, Sastra, dan Perdamaian, hadiah Nobel ekonomi baru pertama kali diserahkan pada tahun 1969. Sedangkan, John Keynes meninggal tahun 1946. Dua puluh tahun lebih sebelum Nobel prize on economics ditetapkan kehadirannya di dunia. Peraturannya adalah, peraih hadiah Nobel haruslah orang yang masih hidup.

Balik lagi,

Terlepas siapa dari mereka yang lebih dekat dengan kebenaran, perjuangan dan legacy yang mereka buat, sangatlah berarti untuk kita yang hidup di zaman kekinian sekarang ini.

 

foto via hexun.com

558 Views
Write your answer View all answers to this question
Sponsored

Author Overview


Ma Isa Lombu
Pendiri selasar.com | Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia