selasar-loader

Apa itu makna Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti?

LINE it!
Answered Jun 27, 2017

Hari Nugroho
Medical Doctor with Addiction Medicine training

L8XxcSyCjGTFC6PE54lkPl-6Xc3vxugj.jpg

Meskipun Bapak-Ibu saya adalah orang Jawa Wetanan, saya lahir dan besar sebagai orang Jawa Kulon. Ya, saya lahir dan besar di Jawa Tengah bagian barat, daerah pesisir utara Jawa yang bahasanya ngapak banget. Jadi, filosofi orang Jawa tidak begitu saya kenal.

Barulah, sesudah saya hijrah ke asal komunitas orang tua untuk sekolah, saya mengenal filosofi-filosofi ini. Salah satunya adalah Suro Diro Joyo Ningrat Lebur Dening Pangastuti. Filosofi ini saya kenal semasa SMA, karena gugus depan pramuka di sekolah saya menggunakan amsal ini sebagai bagian dari tradisi ambalan penegak di SMA ini. Begitupula saat saya bergabung menjadi siswa salah satu perguruan silat, falsafah ini juga dipakai sebagai salah satu pegangan dalam kehidupan seorang pendekar. Dan beberapa waktu yang lalu, falsafah ini menjadi viral karena Presiden menggunakan sebagai status media sosialnya.

Sebagai pemangku adat, suka tidak suka saya mencari tahu apa makna dibaliknya, kok yang dipilih adalah falsafah tersebut. Setelah ditelusuri, falsafah tersebut asalnya dari tembang Kinanthi yang ditulis salah satu legenda pujangga Jawa, Ronggowarsito. Makna cerita dibaliknyanya sungguh dalam sehingga Ronggowarsito menulis tembang Kinanthi pun luar biasa.

Secara bahasa, falsafah tersebut diartikan sebagai berikut :

Suro berarti keberanian, Diro artinya kekuatan, Joyo adalah kejayaan, dan Ningrat itu berkedudukan tinggi, bangsawan. Sementara, Lebur berarti hancur, Dening artinya dengan, dan Pangastuti adalah kebijakan, kesabaran, kasih sayang. Secara harfiah bisa dirangkai maknanya yaitu segala keberanian kekuatan kejayaaan dan kedudukan akan hancur dengan kebijaksanaan, kesabaran, dan kasih sayang.

Segala kesombongan, angkara murka, kezaliman yang dilakukan oleh manusia karena kekuatannya, kedudukannya, kejayaannya akan musnah atau kalah dengan sikap bijaksana, sabar, dan kasih sayang. Hal ini berarti bahwa untuk mengalahkan angkara murka, diperlukan suatu kebijaksanaan, kesabaran, dan kasih sayang.

Sejarah telah membuktikan hal tersebut, begitu pula di dalam agama telah dengan rinci dijelaskan makna falsafah ini. Di dalam Islam, kita dapatkan kisah bagaimana seorang Umar bin Khattab yang terkenal kuat, garang, dan berkeinginan membunuh nabi Muhammad, justru masuk Islam setelah mendengar bacaan Al Qur'an dan memahami maknanya. Begitupula ketika Nabi Muhammad senantiasa dijelek-jelekkan salah seorang pengemis buta, namun justru Muhammad dengan rutin memberinya makan dan menyuapinya. Atau kisah Nabi Yusuf yang digoda Zulaikha dan dituduh berbuat tidak senonoh akhirnya mampu membuktikan bahwa tuduhannya tidak benar dengan cara kebijaksanaannya.

Buya Hamka juga membuktikan falsafah ini ketika diperlakukan dengan tidak adil, dipenjara oleh pemerintah saat itu, namun dengan akhlak dan kesabarannya, justru Presiden Soekarno di akhir hidupnya meminta Hamka yang menjadi imam sholat jenazahnya.

Segala kesombongan, angkara murka, hendaknya dihadapi dengan penuh kesabaran dengan akhlak yang baik dan kebijaksanaan. Ini merupakan suatu strategi untuk memenangkan "perang" tersebut. Bagaimana mengendalikan diri untuk tidak reaktif terhadap provokasi. Kita juga sering mendengar pepatah yang mengatakan bahwa batu jika ditetesi air terus menerus lama-lama akan berlubang juga. Nah, kurang lebih makna dari falsafah Jawa ini adalah demikian.

 

gambar via yasdwipura.web.id 

459 Views
Write your answer View all answers to this question